Subtopik:
- Perubahan Lanskap Pembelajaran di Tengah Transformasi Digital dan Pemanfaatan AI
- Data Penggunaan AI dalam Pendidikan di Indonesia dan Perubahan Perilaku Belajar
- Dampak Penggunaan AI terhadap Proses Akademik
- Tantangan Standar Penilaian Pendidikan di Era Produksi Jawaban Berbasis AI
- Redefinisi Standar Penilaian Pendidikan Melalui Monitoring Proses Belajar
- Penutup
Transformasi teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir telah memengaruhi berbagai aspek pendidikan. Kehadiran kecerdasan buatan generatif memungkinkan jawaban, rangkuman materi, hingga esai disusun dalam hitungan detik, sehingga proses belajar tidak lagi sepenuhnya bergantung pada riset manual atau penalaran bertahap. Dalam situasi tersebut, standar penilaian pendidikan menghadapi tantangan baru, sebab hasil tugas yang terlihat baik belum tentu sepenuhnya mencerminkan proses berpikir asli siswa atau mahasiswa. Untuk memahami perubahan tersebut dan melihat bagaimana sistem penilaian perlu beradaptasi, simak pembahasan selanjutnya dalam artikel ini.
Perubahan Lanskap Pembelajaran di Tengah Transformasi Digital dan Pemanfaatan AI
Lingkungan pendidikan saat ini semakin lekat dengan penggunaan perangkat digital dalam berbagai kegiatan belajar. Materi pelajaran, latihan soal, hingga sumber bacaan ilmiah dapat diakses dengan cepat melalui beragam platform daring, sehingga proses pembelajaran tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penjelasan langsung di ruang kelas. Perubahan ini membantu tenaga pengajar dalam distribusi materi, pengumpulan tugas, dan pemberian umpan balik secara lebih efisien.
Selanjutnya, jika bicara tentang perkembangan teknologi digital dalam pendidikan, topik Artificial Intelligence (AI) rasanya tak mungkin luput dari pembahasan. Seiring berkembangnya penggunaan AI, pemanfaatan kecerdasan buatan ini mulai terlihat dalam berbagai aktivitas belajar, mulai dari mencari penjelasan materi, menyusun jawaban awal, hingga menyesuaikan cara belajar sesuai kebutuhan masing-masing pengguna. Bentuk penggunaannya pun semakin bervariasi dan dekat dengan kebiasaan belajar peserta didik di berbagai jenjang pendidikan.
Penggunaan AI dalam Penyusunan Jawaban Tertulis dan Draf Akademik
Dalam kegiatan belajar sehari-hari, AI sering dimanfaatkan untuk membantu menyusun jawaban tertulis atau membuat draf awal tugas sebelum dikembangkan lebih lanjut. Beberapa tools yang umum digunakan antara lain:
- ChatGPT
ChatGPT menjadi salah satu tool AI yang paling banyak digunakan untuk membantu menyusun jawaban, mencari penjelasan singkat, atau membuat kerangka tulisan berdasarkan instruksi tertentu. - Google Gemini
Selain ChatGPT, AI buatan Google ini juga sering dimanfaatkan untuk menjawab pertanyaan, merangkum ide, dan membantu menyusun penjelasan dalam berbagai bentuk tulisan. - QuillBot
QuillBot memiliki fungsi yang sedikit lebih spesifik dari ChatGPT dan Gemini, yaitu sebagai alat parafrase yang membantu pengguna menyusun kembali kalimat atau paragraf tanpa mengubah makna asli. - Canva
Sejak maraknya AI, Canva tak lagi hanya erat dengan desain visual dan video. Saat ini, Canva telah menghadirkan fitur penulisan otomatis berbasis AI yang kerap dipakai untuk membuat draf singkat pada presentasi atau materi visual.
Penggunaan AI untuk Ringkasan Materi dan Penelusuran Referensi Awal
Tak sekadar untuk menulis, AI juga dapat membantu peserta didik untuk memahami materi panjang atau mencari referensi secara lebih cepat. Platform-platform berikut biasa dimanfaatkan untuk meringkas dan mencari referensi:
- Open Knowledge Maps
Open Knowledge Maps adalah sebuah tool berbasis AI yang menyajikan literatur ilmiah dalam bentuk peta visual sehingga hubungan antar topik dan sumber bacaan dapat terlihat lebih jelas. - Connected Papers
Melalui tampilan grafik jaringan, Connected Papers memudahkan pengguna menelusuri keterkaitan antar artikel ilmiah dari satu topik penelitian. - SMRY AI
SMRY AI merupakan alat yang digunakan untuk merangkum artikel atau bacaan panjang menjadi poin-poin inti. - SummarizeBot
Hampir mirip dengan SMRY AI, chatbot pada SummarizeBot memungkinkan dokumen diringkas secara cepat sebelum dibaca lebih mendalam.
Penggunaan AI untuk Mendukung Personalized Learning
Pemanfaatan AI juga berkembang ke arah personalized learning, yaitu pendekatan belajar yang menyesuaikan materi, tingkat kesulitan, dan ritme pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik. Sistem ini memungkinkan siswa menerima latihan dan umpan balik yang berbeda berdasarkan perkembangan belajarnya. AI yang menggunakan pendekatan personalized learning dapat ditemui pada sejumlah platform berikut:
- Knewton
Knewton adalah platform pembelajaran adaptif yang menyesuaikan tingkat kesulitan materi berdasarkan capaian belajar pengguna. - Smart Sparrow
Smart Sparrow memanfaatkan feedback pengguna sebagai dasar untuk memberikan user personalized learning yang dikustomisasi. Pada platform ini, respons siswa selama proses belajar digunakan untuk mengatur urutan materi berikutnya. - Squirrel AI
Berbeda dengan dua tools sebelumnya, Squirrel AI berfokus pada pemberian latihan tambahan pada bagian materi yang masih sering menimbulkan kesalahan. - Carnegie Learning
Carnegie Learning merupakan penyedia solusi teknologi pendidikan dan kurikulum inovatif untuk matematika, literasi & ELA (Bahasa Inggris dan Sastra), bahasa dunia, dan sebagainya untuk peserta didik tingkat pendidikan dasar hingga menengah.
Data Penggunaan AI dalam Pendidikan di Indonesia dan Perubahan Perilaku Belajar
Setelah mengetahui berbagai bentuk pemanfaatan AI dalam kegiatan belajar, rasanya perlu juga untuk melihat data penggunaan AI di bidang pendidikan, baik di ranah dunia maupun negara. Hal ini penting karena data yang ada akan menunjukkan perubahan nyata cara belajar peserta didik sehingga menjadi dasar untuk menyesuaikan metode pengajaran, penilaian, dan kebijakan pendidikan. Berdasarkan survei Global Student Survey 2025 dari Chegg, empat dari lima mahasiswa di dunia telah menggunakan generative AI untuk mendukung proses pembelajaran di perguruan tinggi, sedangkan hanya 20% responden yang mengaku belum pernah memanfaatkannya sama sekali. Artinya, AI bukan lagi sekadar alat tambahan, melainkan mulai menjadi bagian dari rutinitas belajar sehari-hari di banyak negara.
Dalam survei yang melibatkan 15 negara tersebut, Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat penggunaan AI tertinggi di kalangan mahasiswa, yang persentasenya mencapai 95%. Angka ini berada di atas rata-rata global dan menunjukkan bahwa hampir seluruh responden mahasiswa di Indonesia telah akrab dengan penggunaan GenAI dalam aktivitas akademik. Hanya 4% responden yang menyatakan belum menggunakan AI, sedangkan 1% lainnya tidak memberikan jawaban. Mayoritas penggunaan AI dilakukan untuk membantu tugas akademik sebesar 86%, diikuti penyusunan rencana pengembangan karier sebesar 52%, serta pengaturan jadwal pribadi sebesar 33%.
Tingginya penggunaan AI turut mengubah pola pengerjaan tugas di lingkungan pendidikan. Proses yang sebelumnya banyak dilakukan melalui pencarian sumber, penyusunan gagasan bertahap, dan penulisan manual kini sering dimulai dari hasil keluaran AI yang kemudian disesuaikan kembali oleh pengguna. Perubahan tersebut membuat proses belajar bergerak ke arah yang lebih praktis, sekaligus membuka pembahasan tentang dampaknya terhadap kualitas belajar dan penilaian pendidikan.
Dampak Penggunaan AI terhadap Proses Akademik
Adanya perkembangan dalam pola belajar peserta didik yang semakin bergantung pada AI akhirnya turut memengaruhi proses akademik secara lebih luas. Tidak hanya mempercepat pengerjaan tugas, penggunaan AI juga mulai mengubah cara peserta didik memahami materi dan menyusun hasil belajar. Karena itu, dampak penggunaan AI dalam pendidikan dapat dilihat dari sisi positif sekaligus yang perlu diwaspadai.
Dampak Positif AI dalam Meningkatkan Efisiensi Aktivitas Belajar
Peran AI dalam ranah pendidikan menghadirkan sejumlah keuntungan yang langsung terasa dalam kegiatan belajar sehari-hari. Pengaruh positif ini tidak hanya terlihat dari percepatan pengerjaan tugas, tetapi juga dari cara peserta didik berinteraksi dengan materi pembelajaran. Beberapa dampak positif AI dalam meningkatkan efisiensi aktivitas belajar yaitu:
- Membantu peserta didik memperoleh penjelasan materi secara cepat saat menemui kesulitan belajar.
- Memudahkan penyusunan kerangka tulisan, ringkasan, atau ide awal sebelum dikembangkan lebih lanjut.
- Memberi ruang belajar yang lebih fleksibel karena materi dapat diakses sesuai kebutuhan masing-masing.
- Mendukung perkembangan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah melalui pengolahan ulang informasi.
Pengaruh Negatif AI terhadap Proses Berpikir Kritis Peserta Didik
Di balik kemudahannya, penggunaan AI juga memunculkan tantangan apabila digunakan tanpa pengawasan yang tepat. Risiko ini terutama terlihat ketika peserta didik mulai menjadikan AI sebagai sumber utama tanpa melalui proses berpikir mandiri. Sebagian pengaruh negatif AI terhadap proses berpikir kritis antara lain:
- Jawaban instan dapat mengurangi kebiasaan menelaah materi secara bertahap.
- Ketergantungan pada hasil AI berisiko melemahkan latihan berpikir kritis.
- Dorongan untuk mencari sumber pembanding menjadi semakin berkurang.
- Peserta didik cenderung memilih cara cepat dibanding membangun pemahaman sendiri.
Tantangan Standar Penilaian Pendidikan di Era Produksi Jawaban Berbasis AI
Standar penilaian pendidikan terbaru pada jenjang dasar dan menengah saat ini mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses. Dalam regulasi ini, penilaian tidak hanya berfokus pada hasil belajar, tetapi juga mencakup proses pembelajaran melalui refleksi, observasi, dan keterlibatan berbagai pihak. Wujud nyatanya dapat dilihat dari kegiatan seperti refleksi pembelajaran oleh guru, observasi kelas oleh kepala sekolah atau sesama guru, serta umpan balik dari siswa melalui diskusi atau survei sederhana. Pendekatan ini menunjukkan bahwa proses sudah mulai menjadi bagian penting dalam penilaian, meski pengamatannya masih perlu semakin dekat dengan aktivitas belajar peserta didik yang tidak selalu terlihat secara langsung.
Sementara itu, pada jenjang pendidikan tinggi, standar penilaian merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Peraturan ini menempatkan penilaian sebagai bagian dari pengukuran capaian kompetensi lulusan yang dilakukan secara valid, objektif, dan edukatif melalui pendekatan formatif dan sumatif. Dalam praktiknya, bentuk penilaian dapat berupa ujian tertulis dan lisan, tugas, proyek, uji kompetensi, hingga penilaian tugas akhir yang melibatkan penguji internal maupun eksternal, dengan hasil yang dinyatakan dalam indeks prestasi atau keterangan kelulusan sesuai standar yang ditetapkan perguruan tinggi.
Kedua kerangka penilaian tersebut sudah menunjukkan arah yang lebih komprehensif dengan memasukkan aspek proses dan variasi metode evaluasi. Kendati demikian, perkembangan penggunaan AI dalam pembelajaran membuat cara mengamati proses perlu semakin diperkuat, sebab sebagian aktivitas belajar kini berlangsung di luar pengamatan langsung tenaga pengajar. Kondisi ini menuntut indikator penilaian yang lebih mampu menangkap keterlibatan kognitif peserta didik secara spesifik, sehingga proses yang dinilai benar-benar mencerminkan upaya berpikir mandiri di tengah semakin kompleksnya interaksi antara manusia dan teknologi. Perubahan tersebut yang kemudian memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana penilaian yang berfokus pada hasil akhir masih mampu menjamin orisinalitas pemahaman peserta didik di era AI.
Mengapa Penilaian Berbasis Hasil Akhir Semakin Sulit Menjamin Orisinalitas di Era AI?
Kesulitan menilai orisinalitas dari hasil akhir disebabkan oleh kemampuan AI menghasilkan jawaban yang rapi dan cepat serta adanya perubahan cara peserta didik membangun jawaban itu sendiri. Hasil instan membuat peserta didik merasa tidak perlu melakukan riset mendalam atau memikirkan kembali jawaban yang diberikan oleh AI. Hal ini membuat jejak berpikir yang biasanya terlihat dalam struktur jawaban menjadi semakin samar, sehingga sulit membedakan mana gagasan yang benar-benar terbentuk dari pemahaman pribadi dan mana yang berasal dari bantuan sistem. Akibatnya, bentuk penilaian yang hanya bertumpu pada produk akhir seperti tugas tertulis atau laporan tidak lagi cukup untuk menangkap proses belajar yang sesungguhnya terjadi di baliknya.
Penyesuaian Standar Penilaian terhadap Perubahan Cara Belajar Siswa
Perubahan cara belajar yang telah terjadi karena maraknya penggunaan AI menunjukkan bahwa penilaian harus sudah mulai berfokus pada bagaimana peserta didik sampai pada hasil tersebut. Pemantauan proses, diskusi, presentasi, revisi bertahap, dan penjelasan atas keputusan yang diambil selama mengerjakan tugas menjadi semakin penting. Pendekatan tersebut akan membantu penilaian tetap relevan tanpa menolak kehadiran AI sebagai bagian dari lingkungan belajar saat ini.
Redefinisi Standar Penilaian Pendidikan Melalui Monitoring Proses Belajar
Dalam praktik pendidikan, hasil akhir sebenarnya hanya menangkap satu titik dari rangkaian proses yang lebih panjang. Proses belajar justru menunjukkan bagaimana pemahaman terbentuk, termasuk saat siswa berhadapan dengan kebingungan, mencoba berbagai pendekatan, lalu perlahan membangun cara berpikirnya sendiri. Di titik inilah nilai pendidikan terlihat berada pada bagaimana seseorang sampai pada jawaban tersebut sebagai bentuk perkembangan kemampuan yang lebih utuh.
Ketika cara belajar semakin dipengaruhi oleh kemudahan akses teknologi, termasuk AI, keterhubungan antara proses berpikir dan hasil akhir menjadi tidak selalu terlihat langsung. Kondisi ini membuat pengamatan terhadap proses menjadi penting bukan hanya sebagai mekanisme evaluasi, tetapi sebagai cara membaca keterlibatan intelektual siswa secara lebih jujur. Dengan melihat beberapa indikator seperti alur pengerjaan, dinamika revisi, dan cara siswa merespons kesalahan, penilaian dapat menangkap orisinalitas sebagai jejak yang terbentuk sepanjang proses belajar berlangsung. Indikator-indikator tersebut juga dapat menunjukkan bagaimana peserta didik me-manage pengetahuan dalam situasi yang berubah.
Evaluasi Formatif untuk Redefinisi Standar Penilaian Pendidikan di Era AI
Evaluasi formatif menempatkan penilaian sebagai bagian dari proses belajar yang berjalan, bukan sekadar alat untuk mengukur hasil di akhir pembelajaran. Di dalamnya, penilaian digunakan untuk membaca bagaimana pemahaman peserta didik berkembang secara bertahap, sekaligus mengidentifikasi bagian yang masih perlu diperkuat selama proses berlangsung. Dengan cara ini, evaluasi berfungsi sebagai mekanisme yang membantu mengarahkan proses belajar agar lebih adaptif di semua jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.
Pada praktiknya, evaluasi formatif sudah menjadi bagian dari standar penilaian pendidikan saat ini, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi. Namun, penerapannya sering kali masih terbatas pada bentuk umpan balik tugas atau ulangan berkala yang belum sepenuhnya menangkap dinamika proses berpikir peserta didik secara menyeluruh. Padahal, fungsi utamanya adalah memberikan ruang perbaikan yang berkelanjutan, sehingga proses belajar tidak berhenti pada satu hasil, melainkan terus berkembang melalui refleksi dan penyesuaian strategi belajar. Dalam konteks perubahan cara belajar yang semakin dipengaruhi teknologi, termasuk AI, evaluasi formatif bisa menjadi solusi untuk menjaga keterhubungan antara proses dan hasil belajar.
Bentuk Evaluasi Formatif yang Dapat Diterapkan Tenaga Pengajar
Penerapan evaluasi formatif dapat dilakukan melalui berbagai teknik yang berfungsi untuk memantau perkembangan pemahaman peserta didik secara bertahap. Bentuk-bentuk ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada bagaimana peserta didik berpikir, merespons materi, dan mengembangkan pemahamannya selama proses pembelajaran berlangsung di semua jenjang pendidikan. Beberapa bentuk evaluasi formatif yang dapat diterapkan tenaga pengajar di Indonesia yaitu:
- Pertanyaan terbuka: Bentuk pertanyaan yang tidak membatasi jawaban pada satu respons tertentu, melainkan mendorong peserta didik menjelaskan alasan, cara berpikir, atau pemahaman mereka terhadap suatu konsep.
- Observasi: Teknik penilaian yang dilakukan dengan mengamati secara langsung aktivitas, partisipasi, dan cara peserta didik menyelesaikan tugas selama proses pembelajaran berlangsung.
- Wawancara atau Konferensi: Percakapan terarah antara tenaga pengajar dan peserta didik untuk menggali pemahaman lebih dalam, sekaligus mengidentifikasi bagian materi yang masih perlu diperkuat.
- Presentasi: Kegiatan penyampaian hasil pemahaman secara lisan yang menilai kemampuan peserta didik dalam mengorganisasi ide, menjelaskan konsep, dan menyampaikan argumen di depan audiens.
- Ujian formatif: Evaluasi berkala yang dilakukan selama proses pembelajaran untuk mengukur sejauh mana penguasaan materi pada bagian tertentu sebelum melangkah ke materi berikutnya.
- Esai: Penilaian tertulis yang menuntut peserta didik menyusun gagasan secara sistematis dan analitis untuk menunjukkan pemahaman mendalam terhadap suatu topik.
- Portofolio: Kumpulan hasil kerja peserta didik dalam periode tertentu yang memperlihatkan perkembangan kemampuan, proses belajar, serta pencapaian yang telah diperoleh.
- Penilaian mandiri: Metode refleksi di mana peserta didik menilai sendiri pemahaman dan progres belajarnya sebagai bagian dari pengembangan kesadaran belajar.
- Round Robin Charts: Kerja kelompok yang mengharuskan peserta didik secara bergiliran menambahkan ide pada lembar kerja bersama, sehingga terbentuk kumpulan gagasan yang kemudian didiskusikan secara klasikal.
- Strategic Questioning: Pendekatan berbasis pertanyaan terbuka seperti “mengapa” dan “bagaimana” yang dirancang untuk menggali kedalaman pemahaman sekaligus memicu diskusi kritis di kelas.
- Three-Way Summaries: Sistem merangkum materi dalam tiga tingkat panjang berbeda untuk menguji kemampuan peserta didik dalam menyederhanakan atau memperluas ide sesuai kebutuhan.
- Think-Pair-Share: Strategi pembelajaran yang menggabungkan proses berpikir individu, diskusi berpasangan, dan berbagi hasil ke seluruh kelas untuk memperkuat pemahaman bertahap.
- Countdown 3-2-1: Tata cara refleksi sederhana yang meminta peserta didik menyebutkan tiga hal yang dipelajari, dua hal yang menarik, dan satu hal yang ingin diterapkan dari materi yang dipelajari.
Penutup
Perubahan cara belajar yang dipengaruhi perkembangan AI menunjukkan bahwa penilaian pendidikan tidak lagi dapat bertumpu hanya pada hasil akhir. Proses belajar menjadi bagian yang lebih penting untuk diperhatikan karena di dalamnya terlihat bagaimana peserta didik membangun pemahaman, mengolah informasi, dan mengembangkan cara berpikirnya di berbagai jenjang pendidikan. Dengan demikian, penilaian berbasis proses memberikan gambaran yang lebih utuh terhadap kompetensi yang sebenarnya.
Ke depannya, tenaga pengajar dan pemangku kebijakan perlu memperkuat pendekatan penilaian yang mampu menangkap dinamika proses belajar secara lebih nyata. Penguatan evaluasi formatif, pemantauan proses secara berkelanjutan, serta pengembangan instrumen penilaian yang mendorong refleksi dan penjelasan perlu menjadi bagian dari praktik pendidikan yang adaptif. Melalui langkah tersebut, standar penilaian pendidikan dapat tetap relevan di era AI tanpa kehilangan esensinya dalam memastikan pembelajaran yang autentik dan dapat dipertanggungjawabkan.
Referensi
Abdul Sakti. (2023). Meningkatkan Pembelajaran Melalui Teknologi digital. Jurnal Penelitian Rumpun Ilmu Teknik, 2(2), 212–219. https://doi.org/10.55606/juprit.v2i2.2025
Abdullah, M. S., & Hanifah. (n.d.). Model Evaluasi Formatif Dan Sumatif: Strategi Untuk Meningkatkan proses Dan Hasil Pembelajaran di pendidikan Dasar Pada kurikulum Merdeka. MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin. http://jurnalistiqomah.org/index.php/merdeka/article/view/4131?articlesBySameAuthorPage=23
Ami: Jurnal Pendidikan Dan Riset. (n.d.). http://jurnaltarbiyah.uinsu.ac.id/index.php/ami
Artificial intelligence (AI) sudah menjadi aset di sekolah untuk sekian lama; namun, kesadaran. (n.d.). Artificial Intelligence (AI) Dalam Pendidikan. Intel. https://www.intel.co.id/content/www/id/id/learn/ai-in-education.html
Dunoo, A. (2025, February 10). Using technology to Enhance Performance Assessment in Your Classroom. Ghana Society for Education and Technology. https://gset.education/using-technology-to-enhance-performance-assessment-in-your-classroom/#:~:text=Dr%20Oluwakemi%20identified%20Technology%2Denhanced,experiences%20and%20facilitate%20collaboration%20and
GoodStats Data. (n.d.). 95% Mahasiswa Ri Gunakan ai Dalam Proses pembelajaran. https://data.goodstats.id/statistic/95-mahasiswa-ri-gunakan-ai-dalam-proses-pembelajaran-FIm7A
Hasan, R. (2026, January 22). 10 ai tools for personalized learning in education 2026. Neuwark. https://neuwark.com/blog/10-ai-tools-for-personalized-learning-in-education-2026
Isa Ansori, & Permata, T. W. (2026). Project based learning Pada Mata Kuliah pengembangan bahan ajar Untuk Meningkatkan keterampilan 4C MAHASISWA. Jurnal Pengabdian Masyarakat Dan Riset Pendidikan, 4(3), 17871–17878. https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i3.4876
Kimia, S. P. (n.d.). Pembelajaran Mendalam (deep learning): Menghidupkan proses belajar Yang Berkesadaran, Bermakna, Dan Menggembirakan di Kelas. S1 Pendidikan Kimia| FMIPA Universitas Negeri Surabaya. https://pendidikan-kimia.fmipa.unesa.ac.id/post/pembelajaran-mendalam-deep-learning-menghidupkan-proses-belajar-yang-berkesadaran-bermakna-dan-menggembirakan-di-kelas
Lima ai Untuk Mencari referensi Yang Relevan – Perpustakaan Umy. (n.d.-a). https://library.umy.ac.id/lima-ai-untuk-mencari-referensi-yang-relevan/
Permendikbudristek no.21 tahun 2022 Tentang Standar penilaian pendidikan – ruang GTK. (n.d.). https://guru.kemendikdasmen.go.id/dokumen/JovDnPe0jY?parentCategory=Implementasi+Kurikulum+Nasional
Permendikbudristek-No.-53-Tahun-2023-Penjaminan- … (n.d.-b). https://lldikti3.kemdiktisaintek.go.id/wp-content/uploads/2024/07/Permendikbudristek-No.-53-Tahun-2023-Penjaminan-Mutu-Pendidikan-Tinggi.pdf
Permendikdasmen-NO-1-TAHUN-2026.PDF. (n.d.-d). https://peraturan.go.id/files/Permendikdasmen-no-1-tahun-2026.pdf
Riska Aini Putri. (2023). Pengaruh Teknologi Dalam Perubahan Pembelajaran di era Digital. Journal of Computers and Digital Business, 2(3), 105–111. https://doi.org/10.56427/jcbd.v2i3.233
