Subtopik:
- Dampak Positif dan Negatif AI untuk Proses Pembelajaran Siswa di Era Modern
- Mengenal Yes-Bot Problem pada Chat Bot AI
- Bahaya AI yang Selalu Setuju terhadap Pembelajaran Siswa
- Formula Prompt AI yang Bisa Digunakan Guru dan Siswa untuk Pembelajaran
- Pentingnya Pendampingan Guru saat Penggunaan AI oleh Siswa
- Penutup
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin banyak dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Kehadirannya membantu guru dan siswa menyelesaikan berbagai tugas dengan lebih cepat, mulai dari mencari referensi, menyusun materi pembelajaran, hingga memberikan umpan balik terhadap hasil belajar. Tidak heran jika penggunaan chatbot AI semakin menjadi bagian dari proses belajar mengajar.
Di balik berbagai manfaat tersebut, AI juga memiliki keterbatasan yang perlu dipahami. Dalam kondisi tertentu, AI dapat mengikuti asumsi pengguna tanpa terlebih dahulu memastikan apakah informasi tersebut benar atau salah. Jika tidak digunakan secara bijak, hal ini berpotensi memengaruhi cara siswa memahami suatu materi. Sebelum membahas fenomena tersebut lebih lanjut, mari pahami terlebih dahulu dampak positif dan negatif AI bagi proses pembelajaran di era modern.
Dampak Positif dan Negatif AI untuk Proses Pembelajaran Siswa di Era Modern
Perkembangan AI telah mengubah cara guru mengajar sekaligus cara siswa belajar. Kini, chatbot AI dan berbagai teknologi berbasis AI dimanfaatkan untuk mencari referensi, menyusun materi, memberikan umpan balik, hingga mendukung evaluasi pembelajaran. Kehadirannya membantu proses belajar menjadi lebih efisien, personal, dan mudah diakses sehingga semakin banyak dimanfaatkan di lingkungan pendidikan.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan AI juga menghadirkan sejumlah tantangan. Ketergantungan terhadap AI dapat mengurangi kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah secara mandiri. Selain itu, jawaban AI tidak selalu akurat sehingga tetap perlu diverifikasi. Guru pun menghadapi tantangan baru untuk memastikan hasil belajar benar-benar mencerminkan pemahaman siswa, bukan sekadar hasil yang dihasilkan oleh AI.
Salah satu tantangan lain yang mulai mendapat perhatian adalah kecenderungan AI mengikuti asumsi pengguna tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenarannya. Jika siswa mengajukan pertanyaan dengan premis yang keliru, AI dapat saja melanjutkan pembahasan berdasarkan asumsi tersebut. Fenomena inilah yang dikenal sebagai Yes-Bot Problem dan menjadi salah satu alasan mengapa penggunaan AI dalam pembelajaran tetap memerlukan pendampingan dari guru.
Mengenal Yes-Bot Problem pada Chat Bot AI
Yes-Bot Problem adalah istilah yang menggambarkan kecenderungan chatbot AI untuk mengikuti atau mengafirmasi asumsi yang diberikan pengguna, meskipun asumsi tersebut belum tentu benar. Alih-alih terlebih dahulu memeriksa kebenaran informasi, AI dapat langsung memberikan jawaban berdasarkan konteks atau premis yang dimasukkan oleh pengguna. Sebagai contoh, apabila seseorang bertanya, “Perang Dunia II terjadi pada abad ke-18, apa penyebab utamanya?” AI dapat langsung menjelaskan penyebab Perang Dunia II tanpa mengoreksi bahwa perang tersebut sebenarnya terjadi pada abad ke-20.
Dalam seminar ClarityEnglish, Prof. Anuncius Gumawang Jati menjelaskan fenomena ini melalui kalimat “AI follows the user, not the truth.” Artinya, AI cenderung merespons sesuai informasi yang diberikan pengguna, bukan selalu memverifikasi apakah informasi tersebut benar terlebih dahulu. Fenomena ini juga sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science oleh peneliti dari Stanford University yang menyebut kecenderungan tersebut sebagai sycophancy, yaitu perilaku AI yang terlalu mudah menyetujui atau mengafirmasi pengguna.
Perilaku tersebut bukan berarti AI rusak atau tidak cerdas. Sebagian besar chatbot AI saat ini menggunakan teknologi Large Language Model (LLM) yang bekerja dengan mempelajari pola dari miliaran contoh teks. Berdasarkan pola tersebut, AI memprediksi kata atau kalimat yang paling relevan untuk menjawab pertanyaan pengguna. Selain itu, AI juga dilatih menggunakan umpan balik dari manusia sehingga respons yang dinilai sopan, membantu, dan memuaskan pengguna cenderung memperoleh penilaian lebih baik selama proses pelatihan. Akibatnya, AI dapat belajar bahwa mengikuti alur pertanyaan pengguna sering kali dianggap sebagai respons yang tepat, meskipun premis yang digunakan sebenarnya keliru.
Cara kerja tersebut membuat AI berpotensi memperkuat asumsi yang sudah dimiliki pengguna, terutama jika pertanyaannya mengandung informasi yang salah. Oleh karena itu, jawaban AI yang terdengar runtut dan meyakinkan belum tentu sepenuhnya benar. Dalam konteks pembelajaran, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena siswa dapat menerima informasi tanpa menyadari bahwa pemahaman awal yang mereka gunakan sebenarnya sudah keliru.
Bahaya AI yang Selalu Setuju terhadap Pembelajaran Siswa
Cara kerja AI yang lebih berfokus pada menghasilkan respons yang relevan daripada memverifikasi kebenaran membuat Yes-Bot Problem tidak bisa dianggap sepele. Dalam konteks pembelajaran, kecenderungan tersebut dapat memengaruhi cara siswa memahami, mengevaluasi, dan mengembangkan pengetahuan. Dampaknya pun tidak hanya sebatas jawaban yang kurang tepat, tetapi juga dapat memengaruhi proses belajar secara keseluruhan, terutama jika penggunaan chatbot AI tidak disertai pendampingan dari guru. Berikut beberapa bahayanya yang perlu diwaspadai:
1. Memperkuat Miskonsepsi yang Sudah Dimiliki Siswa
Salah satu fungsi AI adalah memberikan respons berdasarkan informasi yang disampaikan pengguna. Namun, ketika informasi tersebut keliru, AI tidak selalu langsung meluruskannya. Akibatnya, siswa dapat semakin yakin bahwa pemahaman awalnya sudah benar karena jawaban AI terdengar logis dan meyakinkan.
Sebagai ilustrasi, seorang siswa bertanya, “Apakah vitamin bisa menyembuhkan semua penyakit?” Jika AI langsung menjelaskan manfaat vitamin tanpa meluruskan bahwa vitamin tidak dapat menyembuhkan semua penyakit, siswa dapat menganggap asumsi tersebut sebagai fakta.
2. Membuat Kesalahan Berkembang melalui Conversational Drift
Kesalahan tidak selalu berhenti pada satu jawaban. Ketika AI terus mengikuti asumsi pengguna, setiap respons berikutnya akan dibangun di atas informasi yang sudah keliru. Fenomena yang dikenal sebagai Conversational Drift ini membuat kesalahan awal berkembang menjadi pemahaman yang semakin jauh dari konsep yang sebenarnya.
Bayangkan seorang siswa mengira semua hewan yang hidup di air adalah ikan. AI kemudian melanjutkan pembahasan mengenai paus, lumba-lumba, hingga cara berkembang biaknya, seolah semuanya termasuk ikan. Tanpa koreksi sejak awal, percakapan tersebut justru memperluas kesalahpahaman siswa.
3. Siswa dengan Pengetahuan Dasar yang Terbatas Lebih Rentan
Tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama dalam mengevaluasi jawaban AI. Siswa yang sudah memiliki pemahaman dasar cenderung lebih mudah mengenali informasi yang kurang akurat. Sebaliknya, siswa yang masih mempelajari suatu konsep sering kali belum memiliki bekal untuk membedakan mana informasi yang benar dan mana yang keliru. Kondisi ini dikenal sebagai Novice’s Dilemma, yaitu ketika siswa yang paling membutuhkan bantuan justru menjadi pihak yang paling rentan disesatkan oleh AI.
Hal ini dapat terlihat ketika dua siswa menggunakan AI untuk mempelajari materi yang sama. Siswa yang telah memahami konsep dasar biasanya lebih mudah menyadari jika ada jawaban yang kurang tepat. Sebaliknya, siswa yang baru mempelajari materi tersebut cenderung menerima jawaban AI tanpa mempertanyakannya.
4. Mengurangi Kemampuan Berpikir Kritis
AI yang terus mengafirmasi pendapat pengguna dapat membuat siswa terbiasa menerima jawaban tanpa mempertanyakan kebenarannya. Padahal, proses belajar yang efektif menuntut siswa untuk menguji asumsi, mengevaluasi bukti, dan mempertimbangkan sudut pandang lain. Tanpa proses tersebut, pembelajaran berisiko berubah menjadi upaya mencari pembenaran, bukan mencari kebenaran.
Dalam praktiknya, siswa yang selalu memperoleh jawaban yang terdengar meyakinkan dari AI mungkin merasa tidak perlu lagi membuka buku pelajaran, membandingkan informasi dari sumber lain, atau mendiskusikannya dengan guru. Lama-kelamaan, kebiasaan untuk mempertanyakan dan menguji suatu informasi pun dapat berkurang.
5. Memperlebar Kesenjangan Kemampuan Belajar
Kemampuan memanfaatkan AI tidak selalu sama pada setiap siswa. Mereka yang telah memiliki dasar pengetahuan yang kuat umumnya lebih mampu menggunakan AI untuk memperdalam pemahaman dan mengevaluasi jawaban yang diterima. Sebaliknya, siswa yang masih kesulitan memahami konsep dasar lebih mudah menerima informasi AI apa adanya. Akibatnya, AI berpotensi memperlebar kesenjangan kemampuan belajar karena manfaat yang diperoleh setiap siswa tidak sama.
Formula Prompt AI yang Bisa Digunakan Guru dan Siswa untuk Pembelajaran
Meskipun Yes-Bot Problem tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, risikonya dapat dikurangi dengan menyusun prompt yang lebih jelas dan terarah. Semakin lengkap informasi yang diberikan kepada AI, semakin mudah AI memahami kebutuhan pengguna dan menghasilkan respons yang relevan. Dalam seminar ClarityEnglish, Prof. Anuncius Gumawang Jati memperkenalkan formula R-C-T-S sebagai panduan sederhana untuk membuat prompt yang lebih efektif. Formula ini terdiri dari Role, Context, Task, dan Source.
1. Role
Jelaskan peran yang ingin diberikan kepada AI. Peran ini membantu AI memahami sudut pandang yang harus digunakan saat memberikan jawaban.
2. Context
Berikan konteks atau latar belakang yang berkaitan dengan kebutuhan pengguna. Semakin jelas konteksnya, semakin sesuai pula respons yang dihasilkan oleh AI.
3. Task
Tuliskan tugas atau hasil yang diharapkan secara spesifik. Hindari instruksi yang terlalu umum agar jawaban AI lebih terarah.
4. Source
Jika memiliki sumber atau materi tertentu, sertakan sebagai acuan. Langkah ini membantu AI menghasilkan jawaban yang lebih relevan dengan materi pembelajaran yang digunakan.
Contoh Formula R-C-T-S
Berikut contoh penerapan formula R-C-T-S untuk membantu guru membuat soal pemahaman bacaan.
- R (Role): Anda adalah guru Bahasa Indonesia.
- C (Context): Saya sedang mengajar materi teks eksposisi untuk siswa kelas X SMA.
- T (Task): Buat lima soal pemahaman bacaan beserta kunci jawabannya.
- S (Source): Gunakan teks berjudul Dampak Sampah Plastik terhadap Lingkungan.
Dengan informasi yang lebih lengkap, AI memiliki acuan yang lebih jelas untuk menghasilkan jawaban sesuai kebutuhan pembelajaran. Namun, penting diingat bahwa formula R-C-T-S bukan jaminan bahwa AI akan selalu memberikan informasi yang benar. Guru dan siswa tetap perlu memverifikasi hasil yang diberikan AI menggunakan sumber tepercaya serta memanfaatkan AI sebagai pendamping belajar, bukan satu-satunya sumber kebenaran.
Pentingnya Pendampingan Guru saat Penggunaan AI oleh Siswa
Meskipun AI mampu membantu siswa mencari informasi, menjelaskan konsep, hingga memberikan umpan balik secara instan, teknologi ini tidak dapat menggantikan peran guru dalam proses pembelajaran. AI dapat menghasilkan jawaban berdasarkan pola data yang dipelajarinya, tetapi belum tentu mampu memastikan bahwa siswa benar-benar memahami materi atau menggunakan informasi tersebut secara kritis. Oleh karena itu, pendampingan guru tetap diperlukan agar AI dimanfaatkan sebagai alat yang mendukung pembelajaran, bukan menggantikan proses berpikir, bernalar, dan mengambil keputusan.
Cara Menuntun Siswa saat Menggunakan AI untuk Pembelajaran
Agar penggunaan AI memberikan manfaat yang optimal, guru perlu menerapkan pendampingan yang sesuai selama proses pembelajaran. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.
1. Bangun Literasi AI sejak Awal
Sebelum mengintegrasikan AI ke dalam pembelajaran, guru perlu membantu siswa memahami cara kerja AI beserta keterbatasannya. Jelaskan bahwa AI belajar dari data, bukan berpikir seperti manusia, sehingga jawaban yang dihasilkan tidak selalu akurat atau bebas dari bias. Dengan memahami cara kerja AI, siswa akan lebih kritis dan tidak mudah menganggap setiap jawaban AI sebagai kebenaran.
2. Posisikan AI sebagai Pendamping Belajar, Bukan Pengganti Berpikir
AI sebaiknya dimanfaatkan untuk membantu siswa mencari ide, memahami konsep yang sulit, menyusun kerangka tulisan, atau memperoleh umpan balik terhadap hasil pekerjaannya. Namun, proses menganalisis informasi, menyusun argumen, dan menarik kesimpulan tetap perlu dilakukan oleh siswa. Dengan demikian, AI berfungsi sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas.
3. Biasakan Siswa Memverifikasi Jawaban AI
Guru dapat membiasakan siswa memeriksa kembali jawaban AI menggunakan buku pelajaran, jurnal, atau sumber tepercaya lainnya. Selain itu, dorong siswa untuk bertanya, “Apakah informasi ini didukung bukti yang valid?” atau “Apakah ada sumber lain yang menyatakan hal berbeda?” Kebiasaan ini membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis sekaligus mengurangi risiko menerima informasi yang keliru.
4. Utamakan Proses Berpikir yang Tetap Harus Dilakukan Manusia
Saat siswa menggunakan AI, penilaian sebaiknya tidak hanya berfokus pada jawaban akhir. Guru dapat meminta siswa menjelaskan alasan di balik pendapatnya, menunjukkan bukti yang digunakan beserta alasan memilihnya, mengaitkan jawaban dengan pengalaman atau kondisi di lingkungan sekitar, serta mempertahankan idenya melalui presentasi atau diskusi di kelas. Dengan cara ini, guru dapat memastikan bahwa siswa benar-benar memahami materi, bukan sekadar menyalin hasil dari AI.
5. Nilai Proses, Pertahanan Argumen, dan Refleksi Siswa
Penggunaan AI juga perlu diikuti dengan perubahan cara melakukan asesmen. Selain menilai hasil akhir, guru dapat meminta siswa menyertakan prompt yang digunakan, menjelaskan bagaimana mereka memperoleh jawaban, merevisi hasil berdasarkan masukan yang diterima, serta menuliskan refleksi mengenai apa yang dipelajari selama proses tersebut. Pendekatan ini membuat penilaian lebih berfokus pada proses belajar daripada sekadar produk akhir.
6. Tetapkan Aturan Penggunaan AI yang Jelas
Guru perlu menjelaskan sejak awal kapan AI boleh digunakan dan kapan siswa harus mengerjakan tugas secara mandiri. Misalnya, AI dapat dimanfaatkan untuk mencari referensi, melakukan brainstorming, atau memperoleh umpan balik terhadap tulisan. Namun, AI tidak boleh digunakan untuk mengerjakan seluruh tugas tanpa keterlibatan siswa. Aturan yang jelas akan membantu siswa menggunakan AI secara etis, bertanggung jawab, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Penutup
AI dapat menjadi alat yang membantu guru dan siswa belajar dengan lebih efektif, tetapi tidak dapat menggantikan kemampuan manusia untuk bernalar, mengevaluasi informasi, dan mengambil keputusan. Oleh karena itu, pemanfaatan chatbot AI dalam pembelajaran perlu disertai literasi AI, kemampuan berpikir kritis, serta pendampingan yang tepat agar teknologi ini benar-benar dapat mendukung proses belajar. Dengan memahami manfaat sekaligus keterbatasannya, AI dapat dimanfaatkan secara lebih bijak sebagai mitra pembelajaran, bukan sebagai satu-satunya sumber kebenaran.
Referensi
BINUS @Bandung. (2025, August). 13 manfaat AI dalam dunia pendidikan yang mengubah cara belajar. https://binus.ac.id/bandung/2025/08/13-manfaat-ai-dalam-dunia-pendidikan-yang-mengubah-cara-belajar/
Borneo Bulletin. (2026, March 28). The danger of ‘yes’ bots. https://borneobulletin.com.bn/the-danger-of-yes-bots/
Furze, L. (2024, November 11). Synthetic sycophants: Why ‘yes-bots’ are a problem for education. https://leonfurze.com/2024/11/11/synthetic-sycophants-why-yes-bots-are-a-problem-for-education/
Miftahul Ulum. (n.d.). [Artikel jurnal tentang dampak AI dalam pendidikan]. https://miftahul-ulum.or.id/ojs/index.php/jps/article/download/282/158
Mishra, P. (2025, October 21). The yes-bot problem: Why agreeable AI makes learning harder. https://punyamishra.com/2025/10/21/the-yes-bot-problem-why-agreeable-ai-makes-learning-harder/
Pitt Digital. (2025, March 26). 9 ways to use AI for school, and 5 pitfalls to avoid. https://www.digital.pitt.edu/news/pantherbytes-blog/aieducation
Programme of Communication Science, Universitas Padjadjaran. (2025, October 6). How to use AI wisely for your college tasks? https://ilkom.fikom.unpad.ac.id/en/how-to-use-ai-wisely-for-your-college-tasks/
Ruminaiting. (2025, August 20). The yes-bot: How AI learned to tell us what we want to hear. https://ruminaiting.substack.com/p/the-yes-bot
Truth for Teachers. (n.d.). Teach students how to use artificial intelligence responsibly. https://truthforteachers.com/teach-students-how-to-use-artificial-intelligence-responsibly/
Verve, C. (2025, September 4). The yes-man problem: Tackling sycophancy in AI. Medium. https://medium.com/lampshade-of-illumination/the-yes-man-problem-tackling-sycophancy-in-ai-50a64ba5c3fd
