AI-enabled VS AI-enabling Resources, Integrasi AI dari ClarityEnglish yang Permudah Pembelajaran Bahasa Inggris

Reading Time: 10 minutes

Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau AI telah mengubah cara kita bekerja, belajar, dan mengakses informasi. Dunia pendidikan pun tak luput dari transformasi ini. Semakin banyak platform dan software pembelajaran yang mengintegrasikan AI ke dalam produk mereka, didorong oleh ekspektasi pasar yang terus meningkat. Namun, di balik antusiasme tersebut, muncul pertanyaan yang justru lebih krusial: apakah AI benar-benar diintegrasikan dengan cara yang bermakna, atau sekadar ditambahkan demi mengikuti arus?

Pertanyaan ini sangat relevan bagi para tenaga pengajar yang setiap harinya berhadapan langsung dengan kebutuhan belajar siswa. Dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris, integrasi AI yang tidak tepat sasaran tidak hanya gagal memberikan manfaat, tetapi juga berpotensi mengganggu proses belajar itu sendiri. Sebaliknya, ketika AI dihadirkan dengan pendekatan yang edukatif dan praktis, ia dapat menjadi alat yang benar-benar mendukung, baik bagi pengajar maupun pelajar.

Menariknya, beberapa pengembang software pembelajaran mulai memformulasikan pendekatan yang lebih terstruktur dalam mengadopsi AI, bukan sekadar menambahkannya sebagai fitur pelengkap. Salah satunya adalah ClarityEnglish, yang membedakan dua cara dalam mengintegrasikan AI ke dalam program pembelajaran bahasa Inggris mereka. Satu sebagai alat penilaian, satu lagi sebagai alat belajar itu sendiri.

Namun, sebelum membahas lebih jauh, mari kita mulai dengan memahami integrasi AI itu sendiri terlebih dahulu. Baca artikel ini sampai akhir, ya!

Apa Itu Integrasi AI dalam Pembelajaran Bahasa Inggris?

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) adalah teknologi yang memungkinkan mesin untuk belajar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan layaknya manusia. Teknologi ini kini telah merambah bidang pendidikan dan membuka cara-cara baru dalam proses belajar mengajar yang sebelumnya tidak terbayangkan. Konsep inilah yang kemudian dikenal sebagai integrasi AI dalam pembelajaran.

Apabila dibahas dengan lebih mendalam, integrasi AI dalam pendidikan merujuk pada penerapan teknologi AI secara terencana ke dalam proses pembelajaran, bukan sekadar menambahkan fitur berbasis AI pada suatu platform. Artinya, AI dihadirkan dengan tujuan yang jelas: mendukung proses belajar secara lebih efektif, efisien, dan bermakna. Integrasi yang baik mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, kesiapan pengajar, serta nilai pedagogis dari teknologi yang digunakan.

Khususnya dalam pembelajaran bahasa Inggris, bentuk integrasi AI sudah cukup beragam. Salah satu yang paling umum adalah penggunaan chatbot dan virtual assistant yang memungkinkan pelajar berlatih percakapan secara mandiri, kapan saja dan di mana saja. Teknologi natural language processing yang mendasarinya memungkinkan AI mengenali pola ucapan dan memberikan umpan balik secara langsung, baik terhadap pengucapan maupun tata bahasa. Selain itu, AI juga dimanfaatkan melalui sistem pembelajaran adaptif yang menyesuaikan materi dan tingkat kesulitan dengan kemampuan masing-masing pelajar secara otomatis, sehingga proses belajar terasa lebih personal dan relevan.

Manfaatnya pun tidak berhenti di situ. AI dapat membantu pelajar mengakses sumber belajar dari seluruh dunia, meringkas teks panjang, hingga memberikan koreksi tulisan secara objektif dan instan. Bagi pengajar, AI membuka peluang untuk mengefisienkan proses penilaian yang selama ini menyita banyak waktu, sekaligus menghasilkan data perkembangan belajar siswa yang lebih akurat. Hal ini bukan sekadar klaim. Sebuah penelitian dari Macau City University yang diterbitkan dalam Communications in Humanities Research (2025) menemukan bahwa 78% peserta yang belajar dengan bantuan AI menunjukkan peningkatan signifikan dalam penguasaan kosakata dan tata bahasa, dengan rata-rata skor 15,3% lebih tinggi dibandingkan kelompok yang belajar secara konvensional.

Jadi, AI sebenarnya berpotensi sangat besar untuk meningkatkan keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris. Namun, potensi tersebut baru bisa terwujud jika AI diintegrasikan dengan cara yang tepat. Jika tidak, alih-alih mendukung pembelajaran, AI justru bisa menjadi beban yang tidak memberikan nilai apa pun.

Tantangan Integrasi AI dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Meski memiliki dampak positif yang besar, integrasi AI dalam pembelajaran bahasa Inggris tidak lepas dari tantangan. Memahami tantangan ini penting bagi para pengajar agar dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dalam memilih dan memanfaatkan platform berbasis AI.

Menurut penelitian bertajuk “Artificial Intelligence sebagai Pendukung Efektivitas dalam Pembelajaran Bahasa Asing” yang ditulis oleh Camelia Salsabilla Putri Wijaya, Farah Bianca, dan Melisya Sesy Amelia dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (2025) dan diterbitkan di JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika), serta didukung oleh berbagai kajian literatur terkini, setidaknya ada lima tantangan utama yang perlu diantisipasi:

  • Keterbatasan dalam aspek budaya dan nuansa bahasa
    AI belum sepenuhnya mampu mengajarkan konteks budaya dan kompleksitas bahasa yang hanya bisa dipahami melalui interaksi langsung dengan penutur asli.
  • Ketergantungan pada data berkualitas tinggi
    Sistem AI membutuhkan data yang besar dan berkualitas untuk dapat berfungsi secara optimal, sementara ketersediaannya tidak selalu merata.
  • Kendala infrastruktur dan akses teknologi
    Di Indonesia, ketimpangan akses terhadap teknologi canggih masih menjadi hambatan nyata, terutama di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota.
  • Risiko ketergantungan dan penurunan motivasi belajar
    Penggunaan AI yang tidak terarah berpotensi mendorong kemalasan akademis, mengurangi kemampuan berpikir kritis, serta menurunkan motivasi belajar secara intrinsik.
  • Keterbatasan pemahaman kontekstual AI
    AI masih memiliki keterbatasan dalam memproses informasi yang kompleks dan kontekstual, sehingga tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran pengajar dalam membimbing proses berpikir siswa.

Tantangan-tantangan ini menunjukkan bahwa dibutuhkan pendekatan yang lebih terstruktur dan pedagogis dalam mengintegrasikan AI ke dalam proses belajar dan mengajar bahasa Inggris. Inilah yang coba dijawab oleh ClarityEnglish melalui dua pendekatan integrasi AI yang mereka kembangkan.

AI-enabled VS AI-enabling Resources, Dua Pendekatan Integrasi AI dari ClarityEnglish sebagai Inovasi Cerdas untuk Pembelajaran Bahasa Inggris

Didirikan oleh Andrew Stokes dan Adrian Raper pada 1992, ClarityEnglish adalah penerbit independen asal Inggris yang menyediakan platform pembelajaran dan pengujian bahasa Inggris secara daring. Platform ini menawarkan berbagai program yang mencakup kebutuhan belajar bahasa Inggris secara menyeluruh, mulai dari peningkatan keterampilan membaca, pengucapan, dan menulis, hingga persiapan IELTS dan pengembangan keterampilan akademis. Selama lebih dari tiga dekade, ClarityEnglish telah dipercaya oleh ribuan institusi pendidikan di seluruh dunia, termasuk universitas, sekolah, dan lembaga bahasa di Indonesia, bahkan diadopsi oleh British Council untuk seluruh pusat pengajarannya secara global.

Dengan rekam jejak yang panjang di dunia pembelajaran bahasa Inggris, ClarityEnglish tidak terburu-buru mengikuti tren ketika AI mulai menjamur. Alih-alih sekadar menambahkan AI ke dalam produk yang sudah ada, mereka meluangkan waktu untuk meneliti dan merumuskan secara matang bagaimana AI seharusnya hadir dalam pengalaman belajar. Hasilnya adalah dua pendekatan yang berbeda namun saling melengkapi, yaitu AI-enabled dan AI-enabling. Masing-masing pendekatan tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan yang berbeda dalam proses pembelajaran bahasa Inggris.

Apa Itu AI-enabled?

AI-enabled adalah program atau fitur pembelajaran yang menggunakan AI sebagai mesin utama untuk menjalankan fungsi tertentu secara otomatis. Dalam hal ini, AI tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan komponen inti yang memungkinkan suatu proses berjalan dengan cara yang lebih efisien, akurat, dan terukur dibandingkan jika dilakukan secara manual.

Secara sederhana, program AI-enabled dirancang untuk mengotomatiskan tugas-tugas yang sebelumnya membutuhkan banyak waktu dan tenaga, seperti penilaian, pengujian, atau pemberian umpan balik. AI bekerja dengan menganalisis input dari pengguna, seperti ucapan atau tulisan, lalu memprosesnya untuk menghasilkan penilaian atau umpan balik yang objektif dan konsisten. Hasilnya jauh lebih terstandardisasi dibandingkan penilaian manual, sekaligus memungkinkan banyak pengguna untuk dinilai secara bersamaan tanpa mengorbankan kualitas hasilnya.

Dalam praktiknya, sebuah program dapat disebut AI-enabled apabila ada kebutuhan nyata yang dijawab oleh AI, ada keuntungan praktis yang jelas, dan AI benar-benar meningkatkan kualitas atau efisiensi proses yang ada, bukan sekadar hadir sebagai fitur tambahan.

Contoh Implementasi AI-enabled di ClarityEnglish

ClarityEnglish mengimplementasikan pendekatan AI-enabled pada dua program mereka, yaitu Dynamic Speaking Test (DST) dan Practical Writing (PW). Keduanya menempatkan AI sebagai inti dari proses penilaian. Berikut penjelasannya:

Dynamic Speaking Test (DST)

Dynamic Speaking Test adalah alat penilaian berbasis AI yang dirancang untuk mengukur kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris di seluruh level CEFR, mulai dari A1 hingga C2. Tes ini terdiri dari enam tugas yang dirancang relevan dengan kehidupan nyata, mulai dari memperkenalkan diri hingga mengembangkan argumen. Setiap tugas memberikan waktu persiapan sebelum peserta mulai berbicara, dan seluruh tes dapat diselesaikan hanya dalam sekitar 20 menit dengan hasil yang tersedia secara instan.

AI menilai kemampuan berbicara peserta dalam lima aspek utama: pengucapan, kelancaran, tata bahasa, kosakata, dan pencapaian tugas. Algoritma penilaiannya dilatih menggunakan ribuan respons nyata dan jutaan titik data, sehingga menghasilkan tingkat keandalan yang setara dengan penilai manusia, tetapi tanpa dipengaruhi faktor subjektif seperti aksen atau karakteristik pribadi peserta.

Setiap peserta mendapatkan sertifikat hasil yang mencantumkan level CEFR, skor numerik, serta grafik yang menunjukkan kekuatan dan kelemahan mereka di setiap aspek berbicara. Bagi pengajar, data ini menjadi acuan yang konkret untuk menentukan langkah pembelajaran selanjutnya bagi masing-masing siswa. Selain itu, DST dapat diikuti oleh banyak peserta secara bersamaan menggunakan perangkat apa pun, sehingga jauh lebih fleksibel dibandingkan tes speaking tradisional.

Practical Writing (PW)

Practical Writing adalah program yang dirancang untuk membantu pelajar mengembangkan keterampilan menulis dalam bahasa Inggris, baik untuk keperluan akademis maupun kehidupan sehari-hari. Program ini mencakup berbagai jenis tulisan, mulai dari esai deskriptif hingga pesan informal, dan membantu pelajar dalam menyusun pesan, memilih kosakata yang tepat, serta menentukan gaya penulisan yang paling sesuai dengan konteks.

Hal yang menjadi nilai tambah dari pendekatan AI-enabled di program ini adalah integrasi mesin penilaian AI yang memungkinkan pelajar menerima umpan balik secara instan tanpa harus menunggu koreksi manual dari pengajar. Umpan balik tersebut bersifat konstruktif dan personal, mencakup empat kriteria utama: pencapaian tugas, organisasi tulisan, pilihan kosakata, dan akurasi tata bahasa. Dengan demikian, pelajar dapat segera mengetahui di mana letak kekurangan mereka dan langsung memperbaikinya, sementara pengajar dapat mengalihkan fokus mereka dari tugas koreksi rutin ke hal-hal yang lebih bernilai dalam proses pembelajaran.

Apa Itu AI-enabling?

Jika AI-enabled menempatkan AI sebagai mesin yang bekerja untuk pengguna, maka AI-enabling mengambil pendekatan yang berbeda: mengajarkan pengguna bagaimana cara belajar dengan AI. Program AI-enabling dirancang untuk membekali pelajar dengan kemampuan memanfaatkan AI secara mandiri dan kritis sebagai bagian dari proses belajar mereka, bukan sekadar menerima output yang dihasilkan AI begitu saja.

Dalam pembelajaran bahasa Inggris, ini berarti pelajar tidak hanya menggunakan AI sebagai alat bantu, tetapi juga memahami cara menyusun prompt yang tepat, mengevaluasi hasil yang diberikan AI, dan menilai apakah output tersebut sesuai dengan kebutuhan belajar mereka. Keterampilan ini menjadi semakin relevan mengingat AI kini hadir di hampir setiap aspek kehidupan dan kemampuan untuk menggunakannya secara bijak merupakan kompetensi yang perlu dimiliki oleh pelajar masa kini.

Pendekatan AI-enabling lahir dari kesadaran bahwa AI tidak akan pergi ke mana-mana. Oleh karena itu, membekali pelajar dengan pemahaman tentang cara memanfaatkan AI secara efektif justru merupakan bagian penting dari pembelajaran itu sendiri. ClarityEnglish mengimplementasikan pendekatan ini dalam program Tense Buster mereka melalui aktivitas-aktivitas yang dirancang khusus untuk melatih kemampuan tersebut.

AI-enabling Activities dalam Tense Buster

Tense Buster adalah program grammar paling populer dari ClarityEnglish yang telah membantu pelajar memahami 33 area tata bahasa utama dalam lima level, dari Elementary hingga Advanced. Program ini telah digunakan selama lebih dari tiga dekade, diadopsi oleh British Council untuk seluruh pusat pengajarannya di seluruh dunia, dan hingga kini telah mencatatkan lebih dari 11 juta menit waktu belajar dalam satu tahun saja. Pada 2026, Tense Buster menjalani pembaruan besar yang mencakup integrasi aktivitas AI-enabling, menjadikannya contoh nyata bagaimana pendekatan ini diterapkan dalam praktik.

Salah satu aktivitas AI-enabling yang dikembangkan dalam pembaruan ini adalah aktivitas berbasis prompt di mana pelajar diajarkan cara menggunakan AI untuk memperdalam pemahaman mereka terhadap materi grammar yang sedang dipelajari. Misalnya, setelah mempelajari suatu topik tata bahasa, pelajar dapat menggunakan prompt yang telah dirancang khusus untuk meminta AI menjelaskan aturan grammar tersebut dalam bahasa Inggris sederhana, lengkap dengan contoh kalimat yang relevan. Pelajar juga dapat meminta penjelasan dalam bahasa mereka sendiri jika diperlukan. Hal terpenting di sini bukan sekadar hasilnya, melainkan prosesnya: pelajar belajar bagaimana menyusun instruksi yang tepat agar AI dapat memberikan output yang benar-benar berguna.

Contoh lain yang lebih interaktif adalah aktivitas bernama Preposition Detective Agency. Dalam aktivitas ini, AI berperan sebagai kepala inspektur sebuah biro detektif, sementara pelajar berperan sebagai detektif. AI menghasilkan teks yang mengandung kesalahan penggunaan preposisi, dan tugas pelajar adalah menyelidiki teks tersebut, menemukan kesalahannya, menjelaskan mengapa itu salah, lalu menyusun laporan untuk diserahkan kepada kepala inspektur. Kepala inspektur kemudian meninjau laporan tersebut dan memberikan respons. Aktivitas ini tidak hanya melatih pemahaman grammar secara mendalam, tetapi juga melatih kemampuan pelajar untuk berinteraksi dengan AI secara kritis dan terarah, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan sebelum AI hadir.

Dampak AI-enabled dan AI-enabling terhadap Pembelajaran

Dua pendekatan integrasi AI yang diterapkan ClarityEnglish memberikan dampak yang berbeda, namun saling melengkapi dalam menciptakan pengalaman belajar bahasa Inggris yang lebih efektif dan bermakna. Berikut dampak yang dapat dirasakan oleh pengajar maupun pelajar:

  1. Efisiensi proses penilaian
    Dengan AI-enabled, proses penilaian yang sebelumnya menyita waktu dan tenaga kini dapat diselesaikan secara otomatis. Pengajar tidak perlu lagi mengoreksi tulisan atau melakukan tes speaking satu per satu, sehingga waktu yang tersedia dapat dialihkan untuk hal-hal yang lebih strategis dalam pembelajaran.

     

  2. Hasil penilaian yang lebih objektif dan konsisten
    Berbeda dengan penilaian manual yang rentan terhadap faktor subjektif, AI menghasilkan penilaian yang konsisten dan terstandardisasi. Setiap pelajar dinilai dengan kriteria yang sama, tanpa dipengaruhi oleh kondisi atau preferensi penilai.

     

  3. Umpan balik yang instan dan personal
    Pelajar tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui di mana letak kekurangan mereka. Umpan balik yang diterima secara langsung memungkinkan siklus belajar yang lebih cepat dan responsif, sehingga kesalahan dapat diperbaiki segera sebelum menumpuk.

     

  4. Peningkatan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis
    Pelajar yang terbiasa berinteraksi dengan AI secara terarah tidak hanya berkembang dalam kemampuan bahasa Inggris mereka, tetapi juga mengasah keterampilan berpikir kritis dan literasi digital yang relevan dalam kehidupan akademis dan profesional mereka ke depannya.

Pada akhirnya, dampak terbesar dari kedua pendekatan ini bukan sekadar pada hasil belajar yang lebih baik, tetapi pada cara pandang pelajar terhadap AI itu sendiri. AI bukan ancaman, melainkan alat yang jika digunakan dengan tepat, dapat menjadi bagian yang memperkuat proses belajar secara keseluruhan.

AI-enabled vs AI-enabling, Mana yang Paling Cocok untuk Pembelajaran Bahasa Inggris?

Setelah memahami keduanya, muncul pertanyaan: mana yang lebih baik untuk diterapkan untuk pembelajaran bahasa Inggris, AI-enabled atau AI-enabling? Jawabannya bergantung pada konteks dan kebutuhan yang ingin dipenuhi.

AI-enabled paling tepat digunakan ketika tujuannya adalah mengefisienkan proses yang selama ini memakan waktu dan sumber daya, seperti penilaian kemampuan berbicara atau menulis dalam skala besar. Pendekatan ini sangat relevan bagi institusi atau pengajar yang perlu mengelola banyak pelajar sekaligus dan membutuhkan hasil yang cepat, konsisten, dan dapat diandalkan. Jika masalahnya adalah efisiensi dan objektivitas penilaian, AI-enabled adalah jawabannya.

Sementara itu, AI-enabling lebih cocok diterapkan ketika tujuannya adalah membangun keterampilan jangka panjang pada pelajar. Pendekatan ini ideal untuk konteks pembelajaran mandiri, di mana pelajar perlu dikembangkan tidak hanya kemampuan bahasa Inggrisnya, tetapi juga kecakapannya dalam memanfaatkan teknologi secara kritis. Jika tujuannya adalah mempersiapkan pelajar untuk belajar dan berkembang secara mandiri di era AI, maka AI-enabling adalah pilihan yang lebih relevan.

Namun, pada praktiknya, keduanya tidak harus dipilih salah satu. AI-enabled dan AI-enabling dapat berjalan beriringan dalam ekosistem pembelajaran yang sama, masing-masing mengisi peran yang berbeda dan saling melengkapi. Yang terpenting adalah memastikan bahwa setiap penggunaan AI memiliki tujuan yang jelas dan memberikan manfaat nyata, baik bagi pengajar maupun pelajar.

Penutup

Belajar IELTS tidak harus selalu dimulai dengan tekanan target skor tinggi atau jadwal belajar yang padat. Bagi learners tingkat akhir, masa liburan justru bisa menjadi kesempatan yang tepat untuk mulai membangun fondasi bahasa Inggris secara perlahan dan lebih santai. Dengan memahami format tes, memperkuat basic English, serta membiasakan diri berlatih sedikit demi sedikit, proses persiapan IELTS akan terasa lebih ringan dan tidak terlalu membebani.

Saat ini, tersedia banyak sumber belajar IELTS yang dapat diakses dengan lebih fleksibel, mulai dari website gratis, channel YouTube edukatif, aplikasi belajar, hingga kursus online yang lebih terstruktur. Karena itu, tidak ada salahnya mulai mencicil persiapan IELTS dari sekarang agar kamu memiliki waktu yang cukup untuk berkembang secara bertahap sebelum benar-benar menghadapi tes di masa depan.

Referensi

Amanina, F. F., Febriyanti, A. F., Zahroh, A. N., Ramadhan, M. B., & Haryanto, S. (2023). Inovasi berkelanjutan dalam pengajaran bahasa Inggris: Integrasi AI untuk meningkatkan motivasi belajar mahasiswa bahasa Inggris. Prosiding University Research Colloquium, 22, 67–76. https://www.repository.urecol.org/index.php/proceeding/article/view/3200

ClarityEnglish. (n.d.). AI-enabled vs AI-enabling [Video]. YouTube. https://youtu.be/rcs4wRhVPIk

ClarityEnglish. (n.d.). Dynamic speaking test: Introduction [Video]. YouTube. https://youtu.be/a3mCYQTDe6A

ClarityEnglish. (n.d.). Practical writing: Writing for life (for ESL learners) [Video]. YouTube. https://youtu.be/GfohrEn9XJU

ClarityEnglish. (n.d.). Professor Difeng Chueh presentation [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=6tt7GPtEm8o

Clarity English. (n.d.). Practical Writing. https://www.clarityenglish.com/program/practicalwriting/

Clarity English. (n.d.). Tense Buster. https://clarityenglish.com/program/tensebuster/

Clarity English. (n.d.). TenseBuster evaluation. https://www.clarityenglish.com/support/user/pdf/tb/TenseBuster_Evaluation.pdf

English Academy. (2025, November 4). Penggunaan AI dalam pembelajaran bahasa Inggris. https://www.english-academy.id/blog/penggunaan-ai-dalam-pembelajaran-bahasa-inggris

Nadya, R., Amalia, I., & Rachman, I. F. (2025). Analisis potensi dan tantangan dalam penggunaan AI di bidang pendidikan. Semantik: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Budaya, 3(2), 295–309. https://doi.org/10.61132/semantik.v3i2.1705

Penggunaan artificial intelligence (AI) dalam pembelajaran kemampuan menulis bahasa Inggris. (n.d.). JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika). https://ejournal.itn.ac.id/jati/article/download/12461/6930/

The impact of artificial intelligence on education. (2025). https://doi.org/10.54254/2753-7064/2025.HT28263