Subtopik:
- Potret Pembelajaran Bahasa Inggris di Kampus Indonesia: Skor Tes Sudah Mencapai Target, tapi Mahasiswa Belum Tentu Bisa?
- Di Balik Angka: Apa yang Hilang ketika Bahasa Inggris Hanya Diukur lewat Tes
- Transformasi Pendekatan Bahasa Inggris di Universitas Syiah Kuala
- Mengapa Hasil yang Didapat USK Hanya Bisa Dicapai melalui Pembelajaran Berkelanjutan?
- Implikasi bagi Perguruan Tinggi: Apa yang Dapat Diadopsi dari Pengalaman USK?
- Penutup
Setiap tahun, ribuan mahasiswa Indonesia menyelesaikan studi dengan sertifikat TOEFL di tangan. Namun, terlepas dari skor tersebut, muncul pertanyaan yang jarang diajukan secara terbuka: apakah sertifikat itu benar-benar mencerminkan kemampuan mereka?
Di banyak perguruan tinggi Indonesia, pengembangan bahasa Inggris mahasiswa masih bertumpu pada tes sebagai titik akhir. Hal ini dari luar mungkin terlihat sebagai sebuah pendekatan yang terukur, tetapi menyimpan celah yang signifikan. Sistem yang dirancang untuk memastikan kompetensi, dalam praktiknya kerap lebih banyak memastikan kepatuhan administratif.
Padahal, kompetensi bahasa Inggris yang sesungguhnya tidak lahir dari satu momen ujian. Ia dibangun secara bertahap melalui proses pembelajaran yang konsisten dan berkelanjutan. Beberapa institusi mulai menyadari hal ini dan memilih untuk mengambil pendekatan yang berbeda, salah satunya adalah Universitas Syiah Kuala (USK).
Lantas, apa praktik pengembangan bahasa Inggris yang selama ini berjalan di perguruan tinggi Indonesia, dan apa hal berbeda yang dilakukan USK? Baca selengkapnya di artikel ini.
Potret Pembelajaran Bahasa Inggris di Kampus Indonesia: Skor Tes Sudah Mencapai Target, tapi Mahasiswa Belum Tentu Bisa?
Jika ditelusuri lebih jauh, pola pengelolaan bahasa Inggris di perguruan tinggi Indonesia umumnya mengikuti salah satu dari dua model yang sama-sama menempatkan tes sebagai pusat kebijakan.
Model pertama adalah yang paling umum dijumpai: mahasiswa menempuh Mata Kuliah Umum (MKU) Bahasa Inggris di awal perkuliahan, lalu tidak ada lagi intervensi akademik yang berarti hingga menjelang kelulusan, di mana mereka baru dihadapkan pada kewajiban memenuhi skor TOEFL tertentu. Universitas Mulawarman (Unmul), misalnya, menetapkan skor minimum EPT sebagai syarat wisuda dan bahkan secara bertahap menaikkan standar tersebut untuk angkatan 2024 ke atas. Namun, antara MKU di awal masa studi dan tuntutan skor di penghujungnya, nyaris tidak ada program pembinaan yang mengisi ruang di antaranya.
Model kedua tampak berbeda, tetapi menghadirkan tantangan yang tidak lebih kecil. Di Universitas Indonesia (UI), mahasiswa baru diwajibkan mengikuti English Proficiency Test (EPT) di semester pertama. Mereka yang sudah memenuhi nilai target tidak diwajibkan mengambil kelas bahasa Inggris apa pun sepanjang sisa masa studi. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah kemampuan yang diukur di tahun pertama masih terjaga setelah bertahun-tahun tanpa ruang untuk berlatih dan berkembang?
Kedua model ini mencerminkan tantangan struktural yang sama. Bahasa Inggris lebih banyak diperlakukan sebagai persyaratan yang perlu dilalui, bukan sebagai kompetensi yang perlu dibangun secara sistematis sepanjang perjalanan akademik mahasiswa.
Di Balik Angka: Apa yang Hilang ketika Bahasa Inggris Hanya Diukur lewat Tes
Skor TOEFL yang memenuhi syarat kelulusan tidak otomatis mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan bahasa Inggris secara nyata. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Review of Education menemukan bahwa skor tes kemampuan bahasa Inggris hanya memiliki korelasi lemah hingga sedang terhadap performa akademik mahasiswa, dengan nilai korelasi sekitar r = 0,2 dalam meta-analisis berskala besar. Dua mahasiswa dengan skor yang sama bisa memiliki trajektori akademik yang sangat berbeda.
Persoalannya tidak berhenti di ruang akademik. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris secara lisan maupun tulisan, memahami literatur akademik, hingga berkolaborasi dalam lingkungan internasional adalah kompetensi yang tidak bisa tumbuh dari satu kali tes. Ketika bahasa Inggris selalu dihadirkan sebagai syarat yang perlu dilewati, motivasi untuk benar-benar menguasainya pun menjadi sulit tumbuh.
Pada akhirnya, institusi yang hanya berfokus pada pemenuhan skor berisiko menghasilkan lulusan yang secara formal memenuhi syarat, tetapi belum tentu siap menghadapi tuntutan dunia kerja dan akademik yang sesungguhnya.
Transformasi Pendekatan Bahasa Inggris di Universitas Syiah Kuala
Universitas Syiah Kuala menghadapi tantangan yang serupa dengan banyak perguruan tinggi lainnya: mahasiswa mengikuti TOEFL sebagai syarat akademik, tetapi pembinaan yang terstruktur untuk membangun kemampuan secara bertahap belum tersedia. Motivasi belajar bahasa Inggris pun rendah karena bahasa Inggris lebih dipandang sebagai ujian yang harus dilewati, bukan kompetensi yang perlu dikembangkan.
Program USK English Access sebagai Respons Kebijakan Institusional
USK kemudian mengambil langkah yang berbeda. Melalui program USK English Access, fokus bergeser dari pemenuhan syarat tes menuju pembangunan kompetensi yang berkelanjutan. Tujuannya jelas: mahasiswa yang lulus bukan hanya memegang sertifikat TOEFL, tetapi benar-benar memiliki kemampuan yang bisa digunakan di dunia nyata.
Model Pembelajaran yang Mendorong Kemandirian Terstruktur
Hal yang membedakan program ini dari pendekatan konvensional adalah bagaimana pembelajaran dirancang agar benar-benar terjadi, bukan sekadar kewajiban yang dijalani.
Pembelajaran Mandiri Berbasis Platform StudyStream English
Mahasiswa belajar secara mandiri melalui platform StudyStream English dari ClarityEnglish, dengan materi grammar, reading, dan pronunciation yang disusun secara progresif. Kemajuan belajar setiap mahasiswa terpantau melalui Admin Panel, sehingga institusi dapat memastikan pembelajaran berjalan secara konsisten.
Sesi Tutorial Rutin sebagai Mekanisme Pendampingan Akademik
Pembelajaran mandiri ini didukung oleh sesi tutorial rutin mingguan. Mahasiswa tetap memiliki ruang untuk bertanya dan mendapat arahan secara berkala, sehingga kemandirian belajar tidak berjalan tanpa arah.
Kriteria dan Sasaran Peserta Program
Program ini menyasar mahasiswa yang paling membutuhkan pembinaan. Pada periode pelaksanaan 2025, sebanyak 1.692 mahasiswa angkatan 2024 turut serta. Hasilnya, 90% mahasiswa menyatakan puas terhadap program secara keseluruhan dan 73,4% mengalami peningkatan signifikan dalam kompetensi bahasa Inggris mereka.
Bagaimana seleksi peserta dilakukan, seperti apa strukturnya secara lengkap, dan apa saja temuan dari pelaksanaannya—semua dapat dibaca secara rinci dalam case study USK English Access yang dapat diunduh di sini.
Mengapa Hasil yang Didapat USK Hanya Bisa Dicapai melalui Pembelajaran Berkelanjutan?
Angka kepuasan 90% dan peningkatan kompetensi yang dialami 73,4% peserta bukan hasil yang bisa muncul dari satu kali tes. Hasil seperti ini hanya bisa terbentuk ketika mahasiswa diberi waktu, struktur, dan ruang yang cukup untuk benar-benar belajar. Pembelajaran berkelanjutan bekerja karena mengikuti cara kerja otak dalam membangun keterampilan, yaitu melalui pengulangan, penguatan bertahap, dan eksposur yang konsisten.
Struktur pendampingan juga memainkan peran yang tidak kecil. Sesi tutorial mingguan memastikan mahasiswa tidak hanya menyelesaikan materi, tetapi juga benar-benar memahaminya. Ketika ada hambatan dalam proses belajar, ada ruang untuk mengatasinya sebelum terakumulasi menjadi kesenjangan yang lebih besar.
Hasil yang dicapai USK adalah konsekuensi logis dari sebuah sistem yang memang dirancang untuk membangun kompetensi, bukan sekadar mengukurnya.
Implikasi bagi Perguruan Tinggi Lainnya: Apa yang Dapat Diadopsi dari Pengalaman USK?
Pengalaman USK membuka pertanyaan yang relevan bagi institusi mana pun: apa yang akan berubah jika lebih banyak perguruan tinggi mengambil pendekatan yang sama? Jika pembelajaran berkelanjutan menjadi standar, bukan pengecualian, mahasiswa Indonesia akan memasuki dunia kerja dengan kompetensi bahasa Inggris yang tidak hanya tercatat di atas kertas, tetapi benar-benar bisa diandalkan. Kesenjangan antara sertifikat dan kemampuan nyata yang selama ini kerap dikeluhkan oleh dunia industri berpotensi menyempit secara signifikan.
Di tingkat institusi, perguruan tinggi yang berinvestasi pada pembinaan bahasa Inggris yang terstruktur juga berpotensi menghasilkan lulusan yang lebih kompetitif di pasar tenaga kerja global. Hal ini pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan reputasi dan daya saing institusi itu sendiri, termasuk dalam konteks internasionalisasi pendidikan tinggi yang semakin menjadi prioritas.
Kemudian, pada tingkat kebijakan, pengalaman USK menunjukkan bahwa pergeseran paradigma ini tidak memerlukan perombakan sistem yang rumit. Dibutuhkan kerangka kebijakan yang menempatkan pembelajaran sebagai inti, platform yang tepat untuk mendukung pelaksanaannya, dan komitmen institusional untuk memastikan program berjalan secara konsisten. Tiga hal yang sebenarnya sudah dalam jangkauan banyak perguruan tinggi di Indonesia.
Penutup
Pengembangan kompetensi bahasa Inggris mahasiswa tidak bisa diselesaikan hanya dengan menetapkan target skor. Pengalaman USK membuktikan bahwa ketika institusi berkomitmen untuk membangun kemampuan secara nyata, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif, hasilnya pun berbicara sendiri.
Pergeseran dari testing ke learning bukan sekadar perubahan metode, melainkan perubahan cara pandang tentang apa yang seharusnya menjadi tujuan pendidikan bahasa Inggris di perguruan tinggi. Mahasiswa yang lulus bukan hanya perlu memenuhi skor, tetapi perlu benar-benar siap menggunakan bahasa Inggris di dunia nyata.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perubahan ini diperlukan, melainkan seberapa cepat institusi pendidikan tinggi Indonesia siap untuk mengambil langkah tersebut.
Referensi
Kostromitina, M. (2025, August 22). New research in Review of Education: Is predictive validity enough to measure student success? Duolingo English Test Blog. https://blog.englishtest.duolingo.com/new-research-in-review-of-education-is-predictive-validity-enough-to-measure-student-success/
Ratri, G. A. (2024, August 26). Ambil mata kuliah wajib bahasa Inggris, tapi gak ada kelasnya?! Lembaga Bahasa Internasional FIB UI. https://lbifib.ui.ac.id/id/blog/artikel/ambil-mata-kuliah-wajib-bahasa-inggris-tapi-gak-ada-kelasnya
Sketsa Unmul. (2025, February 14). Menjadi salah satu syarat wisuda, peraturan TOEFL tumpang tindih. Sketsa Unmul. https://sketsaunmul.co/berita-kampus/menjadi-salah-satu-syarat-wisuda-peraturan-toefl-tumpang-tindih/baca
PT Solusi Educational Technology. (2025). Mengakselerasi kompetensi bahasa Inggris mahasiswa melalui StudyStream English: Studi kasus program USK English Access. ClarityEnglish.
Nadya, R., Amalia, I., & Rachman, I. F. (2025). Analisis potensi dan tantangan dalam penggunaan AI di bidang pendidikan. Semantik: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Budaya, 3(2), 295–309. https://doi.org/10.61132/semantik.v3i2.1705
Penggunaan artificial intelligence (AI) dalam pembelajaran kemampuan menulis bahasa Inggris. (n.d.). JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika). https://ejournal.itn.ac.id/jati/article/download/12461/6930/
The impact of artificial intelligence on education. (2025). https://doi.org/10.54254/2753-7064/2025.HT28263