Subtopik:
- Sudah Kuliah, Apakah Mahasiswa Masih Perlu Belajar Pronunciation Bahasa Inggris?
- Tantangan dalam Pembelajaran Pronunciation di Perguruan Tinggi
- Digitalisasi sebagai Solusi atas Tantangan Pembelajaran Pronunciation Bahasa Inggris di Perguruan Tinggi
- Universitas Brawijaya dan Metode Barunya dalam Mengajarkan Pronunciation Bahasa Inggris
- Dari Universitas Brawijaya ke Kampus Lain: Peluang Implementasi Pembelajaran Pronunciation Digital yang Lebih Luas
- Penutup
Teknologi terus mengubah cara kita belajar. Buku teks yang dulu menjadi satu-satunya sumber belajar kini bersanding dengan platform digital, aplikasi interaktif, dan sistem pembelajaran berbasis data. Di tengah perubahan ini, satu pertanyaan penting muncul bagi perguruan tinggi: sudahkah kurikulum kita ikut bertransformasi?
Salah satu area yang kerap tertinggal dalam transformasi ini adalah pembelajaran pronunciation bahasa Inggris. Padahal, di era global yang semakin kompetitif, kemampuan berbicara dengan jelas dan tepat bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan nyata bagi mahasiswa yang ingin bersaing di dunia kerja.
Artikel ini mengupas bagaimana sebuah perguruan tinggi mengambil langkah konkret untuk menjawab tantangan tersebut dan apa yang bisa dipelajari institusi lain dari perjalanan transformasi mereka. Untuk mengetahui lebih jelasnya, baca sampai akhir ya!
Sudah Kuliah, Apakah Mahasiswa Masih Perlu Belajar Pronunciation Bahasa Inggris?
Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa pronunciation adalah urusan sekolah dasar atau menengah. Begitu masuk perguruan tinggi, fokus sudah seharusnya bergeser ke hal-hal yang lebih serius, seperti analisis akademik, riset, atau penguasaan bidang ilmu. Anggapan tersebut perlu dipertanyakan.
Kemampuan bahasa Inggris, termasuk pronunciation, memiliki dampak langsung pada karier dan kesejahteraan hidup mahasiswa setelah lulus. Sebuah studi yang melibatkan perusahaan multinasional menemukan bahwa 74% manajer percaya karyawan dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik lebih berpeluang mendapatkan promosi dibanding rekan-rekan mereka yang kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas. Artinya, dalam hal ini bahasa Inggris telah menjadi indikator potensi kepemimpinan yang dipertimbangkan langsung oleh organisasi.
Di Indonesia, tren serupa terlihat jelas. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, perusahaan yang menjadikan kemampuan bahasa Inggris sebagai syarat utama rekrutmen meningkat hingga 25% dibanding lima tahun sebelumnya. Artinya, mahasiswa yang keluar dari kampus tanpa kemampuan bahasa Inggris yang memadai akan semakin kesulitan bersaing, baik di tingkat global maupun di pasar kerja domestik yang terus berkembang.
Implikasinya jauh lebih luas daripada sekadar karier individu. Ketika mahasiswa mampu bersaing dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, daya beli meningkat, produktivitas nasional terdongkrak, dan pada akhirnya kualitas sumber daya manusia Indonesia secara keseluruhan ikut terangkat.
Namun, semua potensi itu tidak akan terwujud jika satu aspek mendasar terabaikan: pronunciation. Kemampuan menulis email dalam bahasa Inggris yang baik tidak cukup jika dalam rapat internasional ucapan kita sulit dipahami. Penguasaan kosakata yang luas pun akan kehilangan dampaknya jika pelafalan yang keliru mengubah makna pesan yang ingin disampaikan.
Itulah mengapa pronunciation bukan sekadar pelengkap kurikulum bahasa Inggris di perguruan tinggi. Pronunciation adalah fondasi yang menentukan seberapa jauh kemampuan komunikasi mahasiswa benar-benar bisa diandalkan di dunia nyata.
Tantangan dalam Pembelajaran Pronunciation di Perguruan Tinggi
Meskipun bahasa Inggris sudah lama menjadi bagian dari kurikulum perguruan tinggi di Indonesia, pembelajaran pronunciation justru sering kali menjadi aspek yang paling kurang mendapat perhatian. Terdapat dua tantangan utama yang kerap dihadapi, yaitu keterbatasan waktu tatap muka dan keberagaman kemampuan awal mahasiswa.
Keterbatasan Waktu Tatap Muka untuk Materi yang Membutuhkan Latihan Berulang
Pronunciation adalah salah satu keterampilan bahasa yang paling membutuhkan waktu, bukan hanya untuk memahami konsepnya, tetapi juga untuk melatih otot-otot artikulasi agar terbiasa dengan bunyi-bunyi baru secara konsisten. Berbeda dengan kosakata atau tata bahasa yang bisa dipelajari dari teks, kemampuan melafalkan bunyi bahasa Inggris dengan tepat hanya bisa diasah melalui latihan berulang dan paparan yang terus-menerus.
Di sinilah masalahnya. Dalam kurikulum perguruan tinggi, waktu tatap muka untuk mata kuliah pronunciation sangat terbatas. Penelitian di Universitas Indonesia menunjukkan bahwa porsi pembelajaran untuk setiap keterampilan bahasa sangat sedikit dibandingkan dengan cakupan materi yang harus diselesaikan dalam satu semester. Selama instruksi hanya berlangsung di kelas, waktu yang ada tidak akan pernah cukup untuk membangun kompetensi pronunciation yang solid.
Keberagaman Kemampuan dan Paparan Bahasa Inggris Mahasiswa
Tantangan selanjutnya adalah keberagaman kemampuan awal mahasiswa. Data English First (EF) 2024 menunjukkan bahwa skor EPI kelompok usia 18–20 tahun di Indonesia hanya mencapai 416 poin, jauh di bawah rata-rata global 488 poin. Tren ini pun bukan hal baru. Skor Indonesia terus merosot dari 498 poin pada 2016 hingga menyentuh titik terendah 412 poin pada 2021 dan sejak itu cenderung stagnan.
Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa paparan bahasa Inggris mahasiswa Indonesia umumnya masih bersifat EFL (English as a Foreign Language). Meski kemampuan membaca dan menulis cukup memadai, banyak mahasiswa berada di level A1–A2 CEFR untuk percakapan dengan kepercayaan diri berbicara yang rendah. Untuk pronunciation, masalahnya lebih spesifik lagi: penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia cenderung mengucapkan kata sesuai bentuk tertulisnya, bukan bunyinya, dengan kesalahan terbanyak pada bunyi vokal seperti /ɒ/ dan /æ/ akibat interferensi bahasa ibu.
Akibatnya, dalam satu kelas pronunciation, dosen menghadapi mahasiswa dengan latar belakang yang sangat beragam. Pendekatan seragam jelas tidak cukup. Dibutuhkan solusi yang mampu mengakomodasi perbedaan ini, memperpanjang waktu latihan di luar kelas, sekaligus tetap terstruktur dan terukur. Di sinilah digitalisasi mulai memainkan perannya.
Digitalisasi sebagai Solusi atas Tantangan Pembelajaran Pronunciation Bahasa Inggris di Perguruan Tinggi
Digitalisasi telah menjadi respons nyata terhadap keterbatasan yang tidak bisa diselesaikan oleh pembelajaran konvensional. Penelitian menunjukkan bahwa platform digital mampu meningkatkan motivasi belajar, mempermudah akses materi, dan mendorong partisipasi aktif mahasiswa. Dalam konteks pronunciation, manfaatnya lebih spesifik: mahasiswa bisa berlatih kapan saja dan sebanyak yang mereka butuhkan, sementara dosen dapat memantau progres secara otomatis tanpa harus mengandalkan waktu tatap muka yang terbatas.
Akan tetapi, digitalisasi yang efektif bukan sekadar memindahkan materi ke layar. Dibutuhkan program yang terstruktur dan dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum secara bermakna. Inilah yang diwujudkan oleh Program Studi Sastra Inggris Universitas Brawijaya.
Universitas Brawijaya dan Metode Barunya dalam Mengajarkan Pronunciation Bahasa Inggris
Berbeda dengan kampus-kampus lainnya, Program Studi Sastra Inggris Universitas Brawijaya (UB) memandang pronunciation sebagai komponen dasar yang perlu dipelajari secara sistematis. Mata kuliah English Pronunciation sudah diberikan sejak semester awal sebagai fondasi pembelajaran bahasa Inggris mahasiswa.
Namun, dengan bobot dua SKS, tekanannya nyata: waktu tatap muka terbatas, sementara materi mencakup aspek segmental dan suprasegmental yang keduanya membutuhkan latihan berulang. Belum lagi mahasiswa yang datang dengan latar belakang kemampuan yang sangat beragam. Pendekatan konvensional jelas tidak cukup. Untuk menjawab tantangan ini, UB mengambil langkah yang berbeda dari kebanyakan institusi: mengadopsi pendekatan blended learning yang memadukan sesi tatap muka dengan latihan digital mandiri yang terstruktur.
Bagaimana Pendekatan Blended Learning Mendukung Implementasi Kurikulum Pronunciation Bahasa Inggris di UB
UB menerapkan blended learning dengan pembagian peran yang jelas. Waktu tatap muka difokuskan pada pengenalan konsep dan penjelasan teoretis dari dosen, sementara latihan intensif dilakukan secara mandiri di luar kelas. Mahasiswa bisa berlatih sesuai kebutuhan dan kecepatan masing-masing, sementara dosen tetap memiliki kendali atas progres pembelajaran.
Peran Clear Pronunciation dalam Asesmen Mata Kuliah English Pronunciation
Clear Pronunciation 1 dan 2 adalah program pembelajaran pronunciation dari ClarityEnglish berstandar CEFR yang dirancang khusus untuk membantu pelajar menguasai bunyi-bunyi bahasa Inggris secara sistematis. Clear Pronunciation 1 berfokus pada 43 bunyi bahasa Inggris, sementara Clear Pronunciation 2 membahas bunyi-bunyi dalam konteks percakapan. Keduanya dirancang untuk digunakan secara individual dan mandiri, sehingga mahasiswa dapat mengakses materi, mendengarkan contoh pengucapan, dan berlatih langsung melalui platform digital, dengan progres yang tercatat secara otomatis.
Di UB, kedua program ini diintegrasikan sebagai komponen asesmen utama dalam mata kuliah English Pronunciation, berdampingan dengan ujian tengah dan akhir semester. Dosen menetapkan unit-unit pembelajaran yang diselaraskan dengan materi kelas, dan mahasiswa wajib menyelesaikannya dalam waktu 1 minggu. UB menetapkan standar minimum 85% coverage untuk setiap unit, dengan progres dipantau melalui Admin Panel yang memberikan laporan kuantitatif secara berkelanjutan.
Hasilnya terasa di kedua sisi. Bagi mahasiswa, keterlibatan dalam latihan mandiri meningkat, kepercayaan diri dalam berbicara bahasa Inggris tumbuh, dan fleksibilitas platform membantu mereka mengelola waktu belajar dengan lebih efektif. Bagi dosen, Admin Panel mengubah cara memantau kelas. Mereka tidak perlu lagi menunggu hasil ujian akhir karena sudah memiliki data real-time untuk mengontrol ketuntasan belajar dan memperkaya pendekatan pengajaran pronunciation secara lebih sistematis.
Dari Universitas Brawijaya ke Kampus Lain: Peluang Implementasi Pembelajaran Pronunciation Digital yang Lebih Luas
Apa yang dilakukan Program Studi Sastra Inggris UB bukan sesuatu yang hanya bisa diterapkan di satu institusi tertentu. Model yang mereka bangun, yaitu memisahkan latihan pronunciation dari sesi tatap muka, mengintegrasikannya ke dalam sistem asesmen, dan memantau progres secara kuantitatif, adalah pendekatan yang secara prinsip dapat diadaptasi oleh program studi bahasa Inggris di kampus mana pun.
Kuncinya bukan pada nama platformnya, melainkan pada keputusan institusional di baliknya: menjadikan pronunciation sebagai komponen yang diukur, bukan sekadar diajarkan. Ketika sebuah institusi menetapkan standar penyelesaian yang jelas, menyediakan alat yang bisa digunakan secara mandiri, dan memberi dosen visibilitas atas progres mahasiswa, tantangan keterbatasan waktu tatap muka tidak lagi menjadi hambatan yang tak terpecahkan.
Bagi pemegang kebijakan dan pimpinan institusi, pengalaman UB menawarkan satu pelajaran yang relevan: transformasi pembelajaran bahasa Inggris tidak harus dimulai dari perombakan kurikulum besar-besaran. Kadang cukup dengan satu keputusan yang tepat, memilih program yang sesuai, mengintegrasikannya secara bermakna, dan memastikan ada sistem untuk memantau hasilnya.
Penutup
Perjalanan Program Studi Sastra Inggris UB membuktikan bahwa tantangan pembelajaran pronunciation yang selama ini dianggap sulit diatasi, seperti keterbatasan waktu tatap muka dan keberagaman kemampuan mahasiswa, bisa dijawab dengan pendekatan yang tepat. Bukan dengan menambah jam kelas, melainkan dengan mengintegrasikan teknologi secara bermakna ke dalam kurikulum yang sudah ada.
Namun, ini bukan sekadar kisah tentang satu kampus yang beruntung menemukan solusi yang tepat. Ini adalah model yang bisa direplikasi. Setiap institusi yang serius ingin meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Inggris mahasiswanya punya peluang yang sama untuk mengambil langkah serupa, dan pengalaman UB bisa menjadi titik awal yang relevan untuk memulainya.
Referensi
Abin, R., Reskiawan, B., & Riyani, N. (n.d.). English pronunciation problems among Indonesian students of English as a foreign language at university level: A descriptive analysis. Jurnal of English Language Education. https://jele.or.id/index.php/jele/article/view/2237
El Furqaan, Z. (n.d.). Blended language learning untuk optimalisasi pembelajaran bahasa Inggris tingkat perguruan tinggi di Universitas Indonesia. https://doi.org/10.5281/ZENODO.1251560
Gateway English. (n.d.). How English fluency can boost your career: The direct impact of English proficiency on career growth. https://gateway.english3.com/how-english-fluency-can-boost-your-career-the-direct-impact-of-english-proficiency-on-career-growth/
GoodStats. (n.d.). Benarkah kemampuan berbahasa Inggris anak muda Indonesia turun? https://data.goodstats.id/statistic/benarkah-kemampuan-berbahasa-inggris-anak-muda-indonesia-turun-UKxhm
Idayani, A., Satriani, E., & Akhra, I. D. (2025). Pengucapan bahasa Inggris: Memanfaatkan aplikasi English Pronunciation IPA untuk membantu mahasiswa mengucapkan kata dengan benar. Perspektif Pendidikan dan Keguruan, 16(1), 102–111. https://doi.org/10.25299/perspektif.2025.vol16(1).21426
Ma’soem University. (n.d.). Apakah semua jurusan kuliah ada mata kuliah bahasa Inggris? Ini faktanya di dunia perkuliahan. https://masoemuniversity.ac.id/artikel/apakah-semua-jurusan-kuliah-ada-mata-kuliah-bahasa-inggris-ini-faktanya-di-dunia-perkuliahan/
Mursyidah, N., Bella, I. S., & Fatmawati. (2026). Efektivitas penggunaan platform digital dalam pembelajaran bahasa Inggris bagi mahasiswa. Journal of Innovative and Creativity, 6(2), 27228–27232. https://joecy.org/index.php/joecy/article/view/10663/8520
Sketsa Unmul. (n.d.). Menjadi salah satu syarat wisuda, peraturan TOEFL tumpang tindih. https://sketsaunmul.co/berita-kampus/menjadi-salah-satu-syarat-wisuda-peraturan-toefl-tumpang-tindih/baca
Solusi Educational Technology. (2026). Studi kasus program studi Sastra Inggris Universitas Brawijaya: Mendukung pembelajaran pelafalan bahasa Inggris menggunakan Clear Pronunciation [Case study]. https://solusieducationaltechnology.com/clarityenglish/
Universitas Negeri Surabaya, Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Inggris. (2025, November 21). Flipped learning dalam pendidikan bahasa Inggris: Konsep, manfaat, dan strategi penerapan yang efektif. https://s2pendidikanbahasainggris.fbs.unesa.ac.id/post/flipped-learning-dalam-pendidikan-bahasa-inggris-konsep-manfaat-dan-strategi-penerapan-yang-efektif
Wall Street English Indonesia. (n.d.). Kenapa bahasa Inggris begitu penting bagi mahasiswa? https://wallstreetenglish.co.id/kenapa-bahasa-inggris-begitu-penting-bagi-mahasiswa/