Subtopik:
- Wajah Baru Ruang Kelas: Realitas Proses Belajar dan Mengajar Zaman Sekarang
- Maraknya Penggunaan AI: Ketika Teknologi Jadi Sahabat Belajar
- Jika Teknologi Bisa Mengajar Murid, Masih Perlukah Sosok Guru?
- Ancaman yang Muncul Saat Teknologi Mengambil Alih Peran Guru Sepenuhnya
- Strategi Menjaga Hubungan Guru dan Murid di Tengah Gempuran AI
- Penutup
Coba bayangkan ruang kelas hari ini. Bukan lagi papan tulis dan kapur, tapi layar sentuh besar yang menampilkan materi interaktif. Siswa tidak perlu lagi menunggu jam pelajaran untuk bertanya—cukup membuka aplikasi AI dan jawaban langsung tersedia kapan pun, di mana pun. Perubahan ini terjadi begitu cepat, sampai-sampai kita jarang berhenti sejenak untuk bertanya: di tengah semua kemudahan ini, masih seberapa penting hubungan antara guru dan murid?
Pertanyaan ini mulai mengusik banyak orang, termasuk para pakar pendidikan yang berkumpul dalam Seminar ClarityEnglish 2026, ketika Prof. Diah Ariani Arimbi dari Universitas Airlangga berbicara panjang lebar tentang bagaimana pendidikan berdiri di persimpangan antara humanisme dan kecerdasan buatan. Sebelum menjawab pertanyaan besar itu, ada baiknya kita lihat dulu apa yang sebenarnya sedang terjadi di ruang kelas kita sekarang. Baca artikel ini sampai akhir, ya!
Wajah Baru Ruang Kelas: Realitas Proses Belajar dan Mengajar Zaman Sekarang
Digitalisasi pendidikan di Indonesia bukan lagi wacana, melainkan kenyataan yang berjalan di banyak sekolah dan kampus. Salah satu contohnya adalah kehadiran Interactive Flat Panel (IFP) di ruang kelas. Namun, IFP di sekolah sering disalahpahami sebagai sekadar Smart TV versi yang lebih besar, padahal keduanya berbeda. IFP dirancang untuk interaksi dua arah, bukan cuma konsumsi konten satu arah. Pergeseran ini juga terlihat dari metode belajar yang berubah bentuk: ada flipped classroom yang membalik urutan belajar mandiri dan diskusi kelas, ada gamifikasi yang mengubah latihan jadi tantangan berpoin, ada pembelajaran berbasis proyek, dan ada pendekatan differentiated learning yang menyesuaikan cara mengajar dengan gaya belajar tiap siswa.
Semua metode ini punya satu benang merah: pembelajaran bergeser dari yang tadinya berpusat pada guru menjadi lebih partisipatif. Siswa dan mahasiswa tidak lagi sekadar menerima informasi, tetapi juga aktif membangun pemahamannya sendiri. Guru pun bergeser peran, dari yang tadinya mendominasi penjelasan di depan kelas, menjadi fasilitator yang mendampingi proses itu.
Dari semua perubahan ini, ada satu hal yang paling terasa dampaknya belakangan. Sebuah teknologi yang bukan sekadar melengkapi metode belajar, tapi ikut masuk ke dalam setiap tahapnya, yaitu kecerdasan buatan atau yang lebih dikenal sebagai AI.
Maraknya Penggunaan AI: Ketika Teknologi Jadi Sahabat Belajar
Kalau metode-metode belajar tadi mengubah cara kelas berjalan, AI mengubah sesuatu yang lebih personal: bagaimana siswa belajar sendiri, kapan pun mereka mau. Survei EdTech 2025 dari Kemendikbudristek mencatat bahwa 43 persen sekolah menengah di kota-kota besar telah menggunakan setidaknya satu platform pembelajaran berbasis AI. Dampaknya pun terasa nyata. Laporan Pusat Asesmen dan Pembelajaran (Pusmenjar) 2024 menyebutkan rata-rata nilai ulangan harian siswa meningkat 12 persen setelah enam bulan penggunaan. Data dari Kemendikdasmen juga menunjukkan lonjakan besar: tujuan penggunaan AI untuk edukasi dan pembelajaran naik drastis dari 21,84% menjadi 43,98% dalam setahun terakhir.
Angka-angka ini bukan tanpa alasan. AI kini bisa menyesuaikan materi berdasarkan gaya belajar tiap siswa lewat pembelajaran adaptif, menilai esai dalam hitungan detik lewat sistem natural language processing yang memeriksa argumen, tata bahasa, sampai ejaan—pekerjaan yang dulu menghabiskan berjam-jam waktu guru. AI juga membantu siswa berkebutuhan khusus, seperti Parrotron yang menerjemahkan ucapan tidak jelas akibat gangguan bicara jadi kalimat yang bisa dipahami orang lain. Bahkan untuk yang lebih suka belajar mandiri, ada aplikasi seperti ELSA Speak yang mengoreksi pelafalan bahasa Inggris dengan akurasi di atas 95 persen kapan saja dibutuhkan, tanpa harus menunggu jadwal les.
Bagi guru dan dosen, AI juga jadi semacam asisten pribadi yang dapat membantu menyusun materi ajar, mempercepat proses penilaian, dan membebaskan waktu yang sebelumnya habis untuk pekerjaan administratif. Bagi siswa dan mahasiswa, AI jadi teman belajar yang selalu siap kapan saja, tanpa harus menunggu jam konsultasi atau jadwal les. Tapi di balik semua kemudahan ini, ada pertanyaan yang mulai muncul di banyak ruang kelas dan seminar pendidikan: kalau AI bisa melakukan semua ini dengan begitu efisien, apa yang sebenarnya masih tersisa untuk dilakukan guru sebagai manusia?
Jika Teknologi Bisa Mengajar Murid, Masih Perlukah Sosok Guru?
Coba ingat lagi momen waktu kamu masih sekolah, saat kamu salah menjawab di depan kelas, lalu gurumu bilang, coba dipikirkan lagi, itu belum tepat. Mungkin waktu itu rasanya sedikit malu. Tapi ada sesuatu di momen itu yang justru bikin kamu ingat pelajarannya sampai sekarang, bukan karena jawabannya, tapi karena ada orang yang cukup peduli untuk jujur sama kamu.
Sekarang bandingkan dengan AI. Kalau kamu salah lalu bertanya ke AI, ia jarang benar-benar menegurmu. Ia cenderung mencari cara untuk membenarkan apa yang kamu katakan, membungkusnya dengan kalimat yang terdengar meyakinkan, seolah kamu memang sudah di jalur yang benar. Dr. Anuncius Gumawang Jati, M.A., salah satu pembicara di Seminar ClarityEnglish 2026, menyebut ini sebagai salah satu bahaya terbesar dari AI, yaitu kecenderungannya untuk selalu setuju dengan penggunanya, apa pun yang dikatakan. Baginya, “AI cannot think, ia cuma menemukan jawaban berdasarkan pola, bukan benar-benar memahami”. Rasanya nyaman, memang, dibenarkan terus-terusan. Tapi kenyamanan itu diam-diam bisa jadi jebakan, terutama kalau fondasi pengetahuan kita belum cukup kuat untuk sadar bahwa kita sedang dibenarkan, bukan diajari.
Ada juga momen lain yang mungkin lebih personal, saat kamu akhirnya mengerti sesuatu yang tadinya bikin frustrasi, entah itu soal matematika yang berulang kali salah, atau esai yang draft pertamanya berantakan. Coba ingat siapa yang ada di sampingmu waktu itu. Kemungkinan besar bukan aplikasi, tapi seseorang yang sempat melihatmu bingung, mencoba lagi, gagal lagi, lalu akhirnya berhasil. Orang itu ikut lega bareng kamu. Prof. Diah Ariani Arimbi dari Universitas Airlangga menyebut pendidikan sebagai sesuatu yang relasional dan dialogis, bukan sekadar transaksi informasi. Ia sendiri mengaku merindukan momen “AHA!” dari murid-muridnya, saat mereka tiba-tiba mengerti sesuatu setelah bergumul dengan kebingungan, sebuah momen yang menurutnya tidak bisa diotomatisasi oleh teknologi apa pun.
Mungkin karena itu juga kita cenderung lebih ingat apa yang dikatakan guru, dibanding apa yang muncul di layar. Bukan karena gurunya lebih pintar soal fakta, tapi karena ada keterikatan yang terbentuk waktu itu. UNESCO, lewat kampanye globalnya Teachers Cannot Be Coded, menyebut hal serupa lewat kata-kata guru bernama Caroline Aidanu di Kenya, bahwa guru tidak bisa dikodekan karena merekalah yang menghidupkan kelas dan membuat murid merasa diperhatikan. Trevor Muir, seorang pendidik dan penulis, juga pernah bercerita tentang Heather, guru kelas satu SD yang mengajar membaca dengan kesabaran dan kehangatan, sampai murid-muridnya bukan cuma bisa membaca, tapi jatuh cinta pada membaca. Kegembiraan itu menular dari Heather ke murid-muridnya, dengan cara yang menurut Trevor tidak mungkin ditiru ChatGPT atau AI mana pun.
Jadi, kalau ditanya apakah teknologi bisa mengajar, jawabannya iya. Ia bisa menyampaikan informasi dan menjawab pertanyaan dengan cepat. Tapi ada satu hal yang tidak bisa digantikan, yaitu perasaan didampingi, ditantang secara jujur, dan benar-benar dilihat sebagai orang yang sedang belajar, bukan cuma sebagai pertanyaan yang butuh dijawab. Dan itu, sejauh ini, masih jadi satu-satunya hal yang cuma bisa diberikan oleh sosok guru.
Ancaman yang Muncul Saat Teknologi Mengambil Alih Peran Guru Sepenuhnya
Semua kemudahan yang ditawarkan AI dalam belajar ternyata datang dengan risiko yang tidak main-main. Riset Brookings Institution yang dirilis awal 2026 bahkan menemukan bahwa saat ini risiko penggunaan AI generatif di sekolah masih lebih besar daripada manfaatnya. Berikut beberapa ancaman nyata yang perlu kita sadari bersama.
- Anak-anak berhenti berpikir sendiri
Rebecca Winthrop, salah satu penulis laporan Brookings, menjelaskan bahwa ketika anak-anak menggunakan AI generatif yang langsung memberi jawaban, mereka tidak sedang berpikir sendiri. Mereka tidak belajar memilah mana yang benar dan mana yang tidak, tidak belajar menyusun argumen yang baik, dan tidak benar-benar terlibat dengan materi yang dipelajari.
- Kemampuan berempati ikut terkikis
AI dirancang untuk menyenangkan penggunanya, ia cenderung membenarkan apa pun yang kita katakan. Winthrop memberi contoh, seorang anak mengeluh ke chatbot soal orang tuanya yang menyuruhnya cuci piring, lalu chatbot itu langsung menjawab, “Kamu benar, kamu memang tidak dipahami.” Bandingkan dengan seorang teman yang mungkin akan bilang, “Di rumahku juga begitu, itu wajar kok.” Menurut Winthrop, situasi kedua inilah yang justru dibutuhkan anak untuk tumbuh secara emosional, sebab kita belajar berempati bukan saat selalu dibenarkan, tapi justru saat kita salah paham dengan seseorang lalu belajar memperbaikinya.
- Data pribadi anak jadi taruhan
AI di sekolah butuh banyak data untuk bekerja, dan pertanyaan yang paling sering muncul dari orang tua biasanya soal data anaknya, data apa saja yang dikumpulkan, disimpan di mana, siapa yang bisa mengaksesnya, dan apakah digunakan untuk kepentingan lain di luar pendidikan. Pertanyaan-pertanyaan itu wajar diajukan dan sering kali belum punya jawaban yang benar-benar jelas.
- Jawaban yang meyakinkan belum tentu benar
AI kadang menghasilkan jawaban yang terdengar percaya diri, tapi sebenarnya keliru. Tanpa pendampingan guru yang mengajarkan cara mempertanyakan dan mengevaluasi informasi, siswa bisa dengan mudah menelan mentah-mentah apa pun yang disodorkan layar, tanpa pernah berhenti sejenak untuk bertanya, “Benar nggak ya ini jawabannya?”
Semua ancaman ini bukan alasan untuk menjauhi AI sepenuhnya, tapi pengingat bahwa AI paling berguna ketika ia melengkapi seorang guru yang hadir secara nyata, bukan menggantikannya. Sebab yang dipertaruhkan bukan cuma nilai ujian atau kecepatan menyelesaikan tugas, tapi juga kemampuan anak-anak untuk berpikir sendiri, berempati pada orang lain, dan tumbuh jadi manusia yang utuh.
Strategi Menjaga Hubungan Guru dan Murid di Tengah Gempuran AI
Setelah melihat semua manfaat, ancaman, dan peran yang perlu disadari kedua belah pihak, pertanyaannya sekarang tinggal satu, bagaimana caranya supaya AI tetap jadi alat bantu, bukan pengganti relasi yang selama ini terbukti membentuk cara kita berpikir dan bertumbuh. Berikut beberapa langkah konkret yang bisa mulai diterapkan oleh guru.
Langkah yang Bisa Dilakukan Guru
- Gunakan AI untuk meringankan pekerjaan administratif seperti menyusun materi ajar atau membuat rubrik, supaya waktu yang tersisa bisa dipakai untuk berdialog langsung dengan murid.
- Ajarkan proses berpikir, bukan cuma menilai hasil akhir. Minta murid menjelaskan alasan di balik jawabannya, bukan sekadar mengecek apakah jawabannya benar.
- Tetap jujur dan berani menegur ketika murid salah, alih-alih membiarkan mereka terus dibenarkan oleh AI tanpa tahu di mana letak kekeliruannya.
- Rancang tugas yang menekankan proses, seperti diskusi kelompok, presentasi lisan, atau revisi bertahap, supaya evaluasi tidak hanya berpatokan pada produk akhir yang bisa saja dibuat oleh AI.
- Jaga porsi interaksi tatap muka, sekecil apa pun, karena momen sederhana seperti menyapa atau menanyakan kabar murid tetap jadi bagian penting dari hubungan yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.
Penutup
Teknologi bisa mengajar dalam arti menyampaikan informasi, menjawab pertanyaan, bahkan menilai pekerjaan dengan cepat dan efisien. Tapi ada satu hal yang belum bisa digantikan oleh siapa pun, yaitu perasaan didampingi, ditantang secara jujur, dan benar-benar dilihat sebagai manusia yang sedang belajar, bukan cuma sebagai kumpulan jawaban yang perlu dikoreksi.
Ikatan antara guru dan murid bukan sekadar soal transfer pengetahuan. Ada proses saling menumbuhkan: guru yang berani jujur meski tidak selalu menyenangkan, murid yang berani tetap bertanya meski jawabannya sudah bisa didapat lewat AI dalam hitungan detik. Keduanya sama-sama berperan menjaga sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kecepatan atau efisiensi, yaitu ruang untuk terus berpikir, salah, mencoba lagi, dan akhirnya mengerti bersama orang lain.
Jadi mungkin pertanyaannya bukan lagi soal memilih antara teknologi dan manusia. Melainkan bagaimana kita, sebagai guru maupun murid, tetap sadar untuk menjaga ruang dialog itu tetap hidup, di tengah semua kemudahan yang ditawarkan AI hari ini.
Referensi
Accutrain. (n.d.). How to maintain teacher-student trust as AI use increases. https://accutrain.com/how-to-maintain-teacher-student-trust-as-ai-use-increases/
Binus University, Faculty of Psychology. (2024, November 11). Pentingnya hubungan interpersonal guru dan siswa untuk meningkatkan motivasi siswa. https://psychology.binus.ac.id/2024/11/11/pentingnya-hubungan-interpersonal-guru-dan-siswa-untuk-meningkatkan-motivasi-siswa/
Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Timur. (2026, February 18). Begini realitas dari digitalisasi pembelajaran, yang keburu beranggapan miring, simpan dulu. Kemendikdasmen. https://bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id/main/begini-fakta-dari-digitalisasi-pembelajaran-yang-keburu-beranggapan-miring-simpan-dulu/
Didipu, I. (n.d.). Belajar dari hati: Membangun koneksi bermakna antara guru dan peserta didik. Kementerian Agama Kabupaten Gorontalo. https://gorontalo.kemenag.go.id/opini/belajar-dari-hati-membangun-koneksi-bermakna-antara-guru-dan-peserta-didik-oleh-ismanto-didipu-spd-mpd-clm
Discovery Education. (n.d.). AI in education. https://www.discoveryeducation.com/blog/educational-leadership/ai-in-education/
Hasan Ismail Abdulmalik. (2024, February 28). Pemanfaatan dan dampak AI dalam bidang pendidikan. Dicoding Indonesia. https://www.dicoding.com/blog/pemanfaatan-dan-dampak-ai-dalam-bidang-pendidikan/
Hernholm, S. (2026, May 17). Will AI replace teachers? It depends on how they teach. Forbes. https://www.forbes.com/sites/sarahhernholm/article/will-ai-replace-teaching-jobs/
Instructure. (n.d.). Top five ways AI will impact teacher-student relationships. https://www.instructure.com/resources/blog/top-five-ways-ai-will-impact-teacher-student-relationships
Masoem University. (2026, April 17). Inovasi pembelajaran terkini: Tren pendidikan modern yang efektif di era digital. https://masoemuniversity.ac.id/artikel/inovasi-pembelajaran-terkini-tren-pendidikan-modern-yang-efektif-di-era-digital/
Muir, T. (2025, January 23). Do we still need teachers in the age of AI? https://www.trevormuir.com/blog/need-teachers
Penulis tidak diketahui. (n.d.). [Judul artikel]. Jurnal Ilmiah Pendidikan Sosial (JIPS), Universitas PGRI Kota Semarang. https://ejournal.pgrikotasemarang.org/index.php/jips/article/view/100
Penulis tidak diketahui. (n.d.). [Judul artikel]. Indonesian Journal of English Language and Applied Culture (IJELAC), Universitas Edujavare. https://edujavare.com/index.php/Ijelac/article/download/403/345/1930
PMC (PubMed Central). (n.d.). [Judul artikel]. National Center for Biotechnology Information. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12333830/
Turner, C. (2026, January 14). The risks of AI in schools outweigh the benefits, report says. NPR. https://www.npr.org/2026/01/14/nx-s1-5674741/ai-schools-education
UNESCO. (2025, August 26). Teachers cannot be coded. https://www.unesco.org/en/articles/teachers-cannot-be-coded
